Yuk, Ikut Terlibat dalam Sustainable Development!

angga

Halo, Updaters! Sudah pernah dengar tentang bonus demografi, belum?  Sesuai namanya, bonus demografi memang dianggap sebagai sebuah keuntungan yang dinikmati suatu negara akibat tingginya jumlah penduduk produktif yang dimiliki. Indonesia menjadi salah satu negara yang akan menikmati bonus ini, lho! Tapi sebenarnya, apa sih pentingnya peran pemuda-pemuda produktif ini dalam membangun Indonesia? Angga Dwi Martha sebagai Youth Advocate di United Nations Population Fund (UNFPA) Indonesia menjelaskannya lewat #KUChat. Yuk, simak obrolannya!

Keterlibatan Angga di bidang Youth Advocate bermula ketika ia bergabung di Youth Advisory Panel (YAP) UNFPA Indonesia. YAP ini merupakan sekelompok pemuda yang berkesempatan memberikan input kepada UNFPA Indonesia dalam program yang ramah pemuda. Youth Advocate ini baru ada pada tahun 2012 dengan tujuan mengadvokasi isu pemuda ke  pemerintah, sektor privat, dan kepada pemuda itu sendiri.

Sebagai Youth Advocate, isu tentang pembangunan tentu cukup familiar bagi Angga. Namun, isu pembangunan yang dibahas bukan pembangunan biasa, Updaters! Pembangunan yang dimaksud adalah pembangunan berkelanjutan atau sering disebut sustainable development. Tak hanya mementingkan pembangunan ekonomi, sustainable development juga mengutamakan keberlanjutan lingkungan dan inklusi sosial. Namun, di balik itu semua, pemuda juga ikut ambil bagian penting karena ternyata 43% dari total 7 miliar penduduk dunia merupakan generasi muda.

“Pemuda sering disebut sebagai pemimpin masa depan. Bagi saya, pernyataan itu kurang tepat, pemuda juga merupakan aktor pembangunan saat ini,” tutur Angga. Ia mengganggap 65 juta pemuda Indonesia saat ini juga memiliki hak untuk menyuarakan ide mereka untuk pembangunan dan perubahan.

Keterlibatan pemuda terhadap pembangunan berkelanjutan itu ternyata bentuknya bermacam-macam, Updaters! Kita bisa memulai dari diri sendiri, misalnya dengan jujur dalam berorganisasi dan tidak membuang sampah sembarangan. Di level yang lebih tinggi, generasi muda bisa membuat gerakan sosial di masyarakat. Angga mencontohkan komunitas Pencerah Nusa, yaitu sekelompok pemuda yang mengabdikan diri untuk meningkatkan layanan kesehatan di daerah terpencil. Ada pula Buku Untuk Papua, gerakan untuk meningkatkan minat baca dan penyediaan buku di Papua dan Indonesia Timur.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk dapat berperan dalam pembangunan berkelanjutan, pemuda perlu dibekali dengan keahlian-keahlian tertentu. Sebagaimana dituturkan Angga, “Pemuda perlu berdaya agar dapat berpartisipasi.” Bagi Angga, kesehatan dan pendidikan yang memadai menjadi kunci utama bagi pemuda yang ingin mengambil berperan.

Pendidikan yang dimiliki bukan hanya pendidikan formal saja, tetapi juga life skills, seperti kepemimpinan dan sikap antikorupsi. Di samping itu, pemuda juga harus menguasai teknologi mengingat perputaran arus informasi yang begitu cepat. Terakhir, Angga mengingatkan pentingnya kemampuan bahasa yang beragam, terutama bahasa yang dipakai di negara ASEAN karena sebentar lagi Indonesia akan memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Sayangnya, menurut Angga, partisipasi pemuda dalam penyusunan kerangka Sustainable Development di Indonesia masih sangat terbatas dan tidak merata. Hal ini bisa disebabkan keterbatasan informasi dan kesempatan atau karena banyak pihak yang menganggap pemuda belum mampu. Padahal, Updaters, banyak sekali, lho pemuda Indonesia yang berprestasi dan sedang melakukan perubahan positif di lingkungannya.

Meskipun begitu, Angga berpesan agar generasi muda Indonesia bisa tetap berperan dalam pembangunan berkelanjutan. Caranya bagaimana? “Mulai kenali sustainable development dari sekarang,” ujar Angga. Saat ini, sedang berlangsung diskusi untuk menentukan Sustainable Development Goals (SDGs) yang targetnya akan disetujui pada September 2015. Ada 16 tujuan yang dicanangkan dalam SDGs yang bisa menjadi topik penelitian yang menarik dan berguna, Updaters!

Setelah memahami, langkah selanjutnya adalah berpartisipasi dengan cara kolaborasi. Kolaborasi ini diperlukan antarorganisasi kepemudaan, lintas sektor dan isu agar dampak yang dihasilkan lebih besar. “Pembangunan itu layaknya orkestra. Perlu peran dan kerja sama aktif dari semua pihak untuk mencapai keberhasilan,” tutur Angga di akhir #KUChat.

So, tunggu apalagi, Updaters? Yuk, mulai kenali, pahami, partisipasi, dan kolaborasi untuk diskusi dan jalannya sustainable development untuk Indonesia yang lebih baik!