Take it your pen and write a story!

Acara bedah buku novel "Bintang Jatuh" karya Nadia Silvarani
Acara bedah buku novel “Bintang Jatuh” karya Nadia Silvarani

“Menulis fiksi adalah menuangkan perasaan dan semangat hidup dalam untaian kata-kata di atas kertas. Sebuah usaha tanpa akhir untuk mendapatkan makna makna yang berbeda” –Erksine Caldwell

Updaters, menulis memang bukan sesuatu yang gampang. Apalagi kalau harus disuruh menulis sebuah cerita fiksi. Nggak heran kalau sekarang ini, Indonesia sudah mulai kekurangan penulis-penulis fiksi yang bagus. Ditambah lagi, sedikit dari anak-anak muda sekarang yang masih memiliki hobi membaca. Padahal, bukannya membaca itu bisa menambah ilmu pengetahuan? Bahkan dari cerita fiksi sekalipun.

Untungnya meski sedikit, masih ada anak muda yang tertarik untuk menulis sebuah cerita fiksi. Nadia Silvarani Lubis, penulis muda inilah salah satu contohnya. Anak muda lulusan Universitas Indonesia yang satu ini sudah mengeluarkan 3 novel fiksi serta cerpen-cerpen yang sempat dimuat di beberapa media. Novel terbarunya yang berjudul “Bintang Jatuh” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama merupakan salah satu karyanya yang cukup unik karena ber-genre semi religi. Suatu hal yang langka karena mengingat sudah jarang anak muda yang tertarik dengan hal yang berbau religi. Dalam novelnya ini, Nadia memiliki motivasi yang nggak hanya memuaskan pembacanya melalui cerita yang ada di dalamnya, tetapi juga ingin pembacanya bisa mendapatkan pengetahuan baru setelah selesai membaca novel ini. Terutama pengetahuan tentang religi yang sudah semakin jauh dengan anak muda.

Sebagai penulis muda, Nadia nggak membatasi genre dari cerita-cerita yang ditulisnya. Sebelum menulis buku fiksi semi religi, Nadia juga pernah menulis buku ber-genre fiksi sejarah (Stories from the Past yang diterbitkan secara Indie) dan fiksi remaja tentang Paris dan teater (Soulmate on the Backstage yang ditebitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia). Pastinya dalam menulis sebuah cerita fiksi, nggak jarang Nadia kehabisan ide cerita. Untuk mengantisipasi masalah kehabisan ide ini, salah satu cara untuk mencari inspirasi adalah dengan mendengarkan musik. Dengan mendengarkan musik, Nadia merasa mendapatkan ‘rasa’ atau ’emosi’ yang akhirnya dapat dituangkan melalui tulisan.

Lewat acara bedah buku novelnya, Penulis muda yang memiliki hobi menonton film dan travelling ini memberitahukan bahwa sedang ada satu projek film yang akan tayang bulan Mei nanti yang diadaptasi dari salah satu novelnya lho. Hebat ya!

Ini bisa menjadi satu inspirasi buat updaters yang suka banget sama nulis. Jangan sampe tulisan-tulisan kamu cuma mampang di blog pribadi atau bahkan di komputer aja. Terutama untuk yang suka banget menulis cerita fiksi. Karena, setiap orang harus punya satu tulisan semasa hidupnya. Nggak akan ada yang namanya sejarah tanpa adanya tulisan yang memuat tentang sejarah itu sendiri. So, let’s take it your pen on and write your own story!