Sangkar Seni, Sinergi Muda Berbudaya

Mungkin banyak dari kita yang pernah akrab dengan permainan tradisional yang terkenal di jaman 90an seperti permainan bekel, ketapel, yoyo, priwitan, egrang, dan sebagainya. Namun, kini pernahkah kita bernostalgia ke jaman tersebut? Atau apakah kita kesulitan karena lupa cara bermain dengan alat-alat tersebut? Nah Updaters, ada kabar gembira lho!

Untuk menjawab persoalan diatas, lahirlah sebuah acara bertajuk kebudayaan dengan nama “Sangkar Seni 2015”. Acara ini digagas oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro sebagai bentuk kesadaran akan kontribusi pemuda terhadap eksistensi budaya di Semarang, terutama sebagai wadah perekat antara masyarakat Semarang dengan Sobokartti. Selain itu, acara ini juga ampuh melepas kepenatan kita dalam beraktivitas sehari-hari. Mengapa? Karena dalam waktu 2 hari, kita telah diajak menikmati kembali indahnya kebudayaan tradisional Jawa dari masa ke masa layaknya perjalanan dengan mesin waktu. Acara ini berlangsung pada tanggal 5-6 Juni 2015 di Kawasan Cagar Budaya Sobokartti, Jl. Dr. Cipto No. 31-33, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Selama dua hari, kita telah disuguhi berbagai rangkaian acara menarik. Misalnya diskusi kebudayaan (Rembug Sobokartti), pameran kesenian dan kebudayaan Jawa dari masa ke masa (seperti makanan khas, wayang, kain batik, seni rupa tradisional yang dikemas dalam bentuk kontemporer, dan lain-lain), Dolanan Gamelan dan Ndamel Wayang (Membuat Wayang), serta malam puncak yang bertajuk Gelebyar Lokapala, yakni pertunjukan kolaboratif kesenian Jawa tradisional dan kontemporer oleh Sanggar Sobokartti dan menampilkannya secara terbuka untuk masyarakat umum di Semarang secara gratis. Mulai dari mahasiswa, pihak akademisi, tokoh budaya, perwakilan pemerintah, komunitas lokal, media massa, dan masyarakat Semarang turut dilibatkan dalam Sangkar Seni 2015, yang merupakan pertama kali diadakan di Kota Semarang.

 

CYMERA_20150608_150953

Dalam acara ini, kita telah menyaksikan suatu sinergi apik nan kreatif persembahan anak muda dan sangat sayang untuk dilewatkan. Sangkar Seni 2015 telah terlaksana untuk memberi arti kepada masyarakat luas bahwa kebudayaan bukanlah hal yang tua dan kuno, bukan pula tanggung jawab orang-orang tertentu saja untuk melestarikannya, namun sesuatu yang harus dijaga sebagai identitas bangsa dan seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak muda, harus berperan aktif dalam melestarikannya. Jangan sampai kita teriak ‘maling’, padahal kita justru acuh tak acuh terhadap kelestarian budaya sendiri, bahkan lebih antusias terhadap budaya lain. Dalam arti, sudah selayaknya kita sebagai agen pewaris budaya untuk menjaga kesenian dan kearifan lokal budaya Indonesia, seperti salah satu contohnya, budaya Jawa. Masih banyak lho Updaters, budaya yang perlu kita jaga. Jangan pernah salahkan bangsa lain ketika mereka meniru atau mengambil kesenian tradisional kita, karena kita pun tidak bergerak untuk melestarikannya. Cinta butuh pengorbanan, bukan? Jadi Updaters, kita juga harus berkorban meluangkan waktu kita walaupun sedikit, untuk belajar mencintai dan memahami budaya tradisional kita! Semoga Sangkar Seni 2015 akan terus menginspirasi dan tetap bersinergi dalam melestarikan kebudayaan Indonesia. Yuk, kita apresiasi pagelaran kebudayaan karya anak bangsa di Sangkar Seni 2015!

Author: mega
Kreatif, produktif dan positive thinking (ini harga mati!) :D