Prie GS: Sosok Budayawan Sederhana dari Tanah Jawa

13451107191531303682

Dengan pribadi yang khas, ramah, santun dan jenaka, tidak heran apabila nama Beliau tersohor dengan citra yang baik dan mampu menjadi panutan bagi masyarakat. Terutama dengan berbagai kelakarnya yang sering mengundang gelak tawa, sekaligus menjadi refleksi bagi kehidupan manusia. Om Prie, begitu Beliau akrab disapa. Om Prie sedang menekuni profesi sebagai wartawan, kartunis, penulis, host radio dan televisi, bahkan menjelma sebagai perenung. Yap! Penulis novel inspiratif berjudul “Ipung” ini memang dikenal aktif dan kritis dalam melukiskan fenomena terkait lingkungan sekitar. Beliau pun senang mendatangi undangan seperti menjadi pembicara, serta ceramah karena merasa bahwa ada suatu panggilan untuk menjalin kedekatan emosional, spiritual, dan intelektual, “Ya seneng-seneng pokoknya mendatangi undangan, menulis buku, siaran radio, televisi…” katanya. Sejak kecil, Beliau sadar mempunyai bakat terkenal. Menurutnya, hal itu adalah sebuah kecenderungan yang diberikan oleh masing-masing orang, yang tentunya berbeda. Beliau mengakui bahwa kecenderungannya dalam hal menggambar, bermain musik seperti gitar klasik dan piano klasik, menulis, dan siaran, itulah yang membuat Beliau mudah terkenal.

Telah banyak pengalaman baik suka maupun duka yang telah Beliau jalani, dan semua tahapan memiliki keunikan dan romantika masing-masing. Profesi Beliau dapat dikatakan mengalami lika-liku yang tidak sedikit. Pertama-tama, Om Prie memulai karirnya sebagai musisi, kemudian kartunis, dimana pada waktu itu, profesi tersebut memiliki prestisius yang tinggi. Namun, Beliau menyadari bahwa panggilan terbaiknya bukan menjadi seorang kartunis, tetapi penulis. Dalam hal ini, Beliau lebih memenuhi hasrat artistiknya dibandingkan sebagai kartunis. Ia mendapatkan respon yang baik pula akibat kecintaan Beliau pada bidang tersebut. Dengan gaya bahasa yang sederhana, tetapi sarat makna, Beliau mampu memikat para pembaca dengan tulisan yang ia buat. Walaupun kadang terhambat oleh kegiatan lainnya sampai mood yang tidak menentu, hal itu tidak menghentikan semangat Beliau untuk terus berkarya dan menginspirasi. Sampai akhirnya,  Beliau menyadari bahwa ia lebih tertarik untuk menjadi public speaker atau penceramah. Ia menikmati kedekatan yang terjalin bukan hanya kepada audiens, tetapi juga kepada sang Maha Kuasa. Melalui website pribadi Beliau, ia menulis “Saya pernah bekerja dengan pekerjaan yang tidak saya sukai. Sungguh menderita setiap kali. Karena saya tak menyukai pekerjaannya, saya jadi tak menyukai orang-orang di sekitarnya. Maka ganda penderitaan saya. Tersiksa pekerjaan, tersiksa pergaulan. Tapi dari semua keterpaksaan yang menyiksa itu saya baru tahu, bahwa ia adalah manfaat penting di kelak kemudian.”

“Kini, baru jelas, ada apa dibalik seluruh keterpaksaan yang menyiksa itu. Ia sejatinya adalah peletak landasan. Dua hari bekerja di pabrik yang saya sumpahi itu, ternyata adalah pondasi saya dalam kerja bertahun-tahun di hari ini. Numpang hidup di tempat saudara yang menekan perasaan itu ternyata adalah dasar saya bergaul dengan manusia di hari ini. Tak ada yang sia-sia dari seluruh kerja paksa yang saya jalani selama ini. Mengingat itu semua, kini saya agak menega-negakan memaksa pihak lain untuk mengerjakan soal-soal yang mungkin tak mereka sukai. Bukan cuma tak enak tapi sering kali sungguh tak tega apalagi jika menyangkut orang-orang terdekat kita, anak misalnya. Melihat anak-anak menderita adalah kelemahan orang tua, tak terkecuali saya. Tapi tega tak tega, rumus hidup itu jelas belaka. Ada tujuan hidup yang harus dicapai cuma dengan jerih payah, tak peduli ia adalah anak-anak kita.” Tulisan ini penuh makna yang dapat kita ambil bahwa hidup tak harus sempurna untuk dapat memberi arti, jadilah pribadi yang bernilai bagi se-isi bumi.

Nah Updaters, kunci Beliau masih menjalani berbagai profesi tersebut hingga kini adalah kecintaan dan itu mutlak hukumnya. Beliau mengakui bahwa kecintaan akan membimbing kepada langkah-langkah berikutnya, dan cita-cita itu tunduk pada bimbingan itu saja, yang nanti akan diformulasikan oleh alam dengan sendirinya. Seperti penuturan Beliau, dimana public speaker bukan menjadi cita-citanya, namun justru ia merasakan bahwa pembicara publik adalah kontributor terlengkap dalam hidup Beliau. Oleh karena itu, Om Prie berpesan, khususnya kepada anak-anak muda, jangan tergoda hanya berada di permukaan, tetapi selami sampai ke kedalaman, misalnya pesta ya ramenya, gemerlapnya, tetapi orang tua berpikir berapa biayanya, boros atau tidak. Jadi dunia permukaan cenderung menipu, coba ketahui dari segi etosnya. Jadi, apabila tertahan di dunia permukaan itu, anak-anak muda rawan tertipu, sampai lupa bahwa ia menjadi sosok idola itu sendiri, sibuk berteriak meminta foto bersama sampai lupa membangun diri agar ia layak diajak foto bersama.

(Sumber Foto profil Prie GS di Twitter @Prie_GS)

Author: mega
Kreatif, produktif dan positive thinking (ini harga mati!) :D