Perempuan Juga Bisa!

Feminism

 

”Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan.”

 

Updaters bisa menebak nggak, siapa yang melontarkan kalimat itu? Ya, kalimat itu ditulis oleh R. A. Kartini, wanita yang dianggap sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia. Meskipun Kartini telah wafat lebih dari seabad yang lalu, ternyata Indonesia masih punya “Kartini-Kartini lain” yang tak kalah hebatnya, lho!
Nama Pertamina tentu sudah akrab di telinga kita, kan? Siapa sangka, satu-satunya perusahaan BUMN yang mengurusi kebutuhan bahan bakar minyak rakyat Indonesia ini sempat dipimpin oleh seorang perempuan. Ia adalah Galaila Karen Agustiawan yang menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina dari tahun 2009 hingga 2014. Nama Karen tercatat sebagai satu-satunya perempuan yang pernah memimpin perusahaan ini dari awal berdirinya. Hebat banget ya, Updaters?!
Dengan kemampuannya, Karen berhasil mematahkan stereotype di masyarakat yang menganggap sektor perminyakan adalah dunia laki-laki. Terbukti, di bursa pemilihan Dirut Pertamina, alumni ITB ini mampu mengungguli laki-laki yang menjadi calon Dirut juga. Bahkan, Menteri Negara BUMN yang menjabat pada waktu itu, Sofyan Djalil, mengatakan bahwa dari uji kompetensi dan interview, hanya Karen yang memenuhi kriteria yang diinginkan sebagai Dirut Pertamina.
Selain Karen, Indonesia juga punya sosok Retno Marsudi yang kini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pertama. Alumni Hubungan Internasional UGM ini memang telah malang melintang di dunia diplomasi mulai dari tahun 1986. Ia pernah bekerja di Kedubes Indonesia di Belanda, Norwegia, dan Islandia. Yang tak kalah hebatnya, Retno pernah diberi gelar Order of Merit dari Raja Norwegia ketika bertugas di sana. Gelar ini diberikan untuk orang-orang yang dianggap ‘melakukan pelayanan yang luar biasa untuk kepentingan Norwegia.’ Wah, kebayang dong, betapa berdedikasinya Retno ketika menjalankan tugasnya, Updaters!
Karen dan Retno adalah bukti bahwa semangat emansipasi Kartini masih terus hidup sampai saat ini. Sebagai perempuan, kita bisa mencontoh semangat mereka juga, ya. Mewujudkan emansipasi bukan berarti harus selalu menduduki jabatan fungsional seperti mereka berdua, kok. Selama kita tau apa yang kita inginkan dan memiliki semangat yang melampaui keterbatasan gender, maka kita pun mampu menjadi Kartini-Kartini berikutnya!