Muliakan Sosok Guru Pertama bagi Manusia

Terpujilah wahai Ibu/Bapak Guru, Namamu akan selalu hidup dalam sanubari ku.

Sosok guru tak kan pernah lepas dari kehidupan kita dari lahir hingga ke liang lahat kelak, karena menuntut ilmu memang dilakukan dari buaian hingga liang lahat kelak.

Setiap manusia memiliki rasa kekaguman masing-masing atas sosoknya. Banyak hal yang baru yang ditemui dari setiap kalimatnya atas suatu hal. Dari pengetahuan yang diberikannya cara berpikir kita menjadi berubah, karena kekayaan pengetahuan yang diungkapkan sang Guru. Tak banyak yang bisa diungkapkan dari sosok guru, selain kekaguman dan rasa terimakasih yang tak cukup diucapkan berkali-kali. Berkatnya dia kini kita bisa memaknai semua hal yang ada dikehidupan kita dengan landasan berpikir sesuai. Bukan hanya teori yang memaknai semua pemecahan masalah, tetapi juga nurani yang selalu mengiringi kita dalam membuat keputusan. Teori dan nurani menjadikan kita tumbuh tak hanya sebagai pencari solusi tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan. Bukan hanya cerdas, budi pekerti tak pernah absen dia tanamkan melalui petuahnya. Mulai dari cerita yang dia ungkapkan hingga contoh secara nyata saat kita diharuskan menyaksikan dan dilibatkan dari keputusan yang diambilnya.

Lebih dari itu, pasti kita semua selalu memiliki guru favorit. Dimana pun kita berada ada saja sosok yang membuat kita terkagum-kagum atas ajarannya. Semua kekaguman kita selalu menjadi seklumit tak terlupakan. Mulai dari masuk jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, pasti ada satu sampai tiga orang yang kita masukan daftar sebagai guru favorit. Mungkin jika dibuat daftar jumlahnya bisa penuh seperti buku absensi yang selalu dibawanya. Itu kalau guru yang kita temui dalam dunia pendidikan. Lalu bagaimana dengan guru pertama kita temui saat kita baru hadir di semesta ini?

Iya, ibu adalah guru pertama kita yang mengenalkan bagaimana kita hidup di alam semesta. Sambutan seyum manisnya tak pernah absen bagia setiap manusia yang baru saja keluar dari dunia kandungkan ke dunia nyata.
Ucapkan terimakasih setiap saat kita mengingatknya rasanya tak cukup untuk balas budi padanya, tetapi kesadaran akan menghargai Ibu kita, para ibu sekaligus calon ibu bisa menjadi salah satu cara ungkapan terimakasih.
Melalui perjuangan RA Kartini, perempuan bisa menjadi sosok ibu yang mumpuni, karena dunia pendidikan kini di buka seluas-luasnya untuk perempuan. Dia mengingatkan alasan mengapa akses pendidikan tak hanya dibutuhkan oleh sosok laki-laki,yakni sosok yang menjadi kepala keluarga di kartu keluarga. Kartini mengungkapkan bahwa perempuan lah sosok pengajar pertama manusia di dunia.

“Bukan untuk menjadi pesaing laki-laki kita para perempuan menginginkan akses pendidikan seluas-luasnya, namun karena tugas dari alam yang diembankan kepada kita, dimana perempuan memiliki tugas sebagai pengajar manusia pertama”.

Jadi buat kalian para perempuan cari ilmunya harus semangat, karena kita mengemban amanah yang luar biasa besar secara otomatis saat lahir sebagai anak perempuan. Terlahir sebagai anak perempuan artinya terlahir menjadi seorang guru, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, alam telah mengembankan amanahnya.

Author: fela
Journalism is a more immediate short term weapon | Writer | Editor at Iyaa.com|