Membangun Generasi Indonesia yang Berintegritas dan Anti-Korupsi

Penyebabnya adalah korupsi! Tentu kita akrab dengan kata ini ya, Updaters. Bagaimana tidak? Hal ini kerap membuat kita geram dan selalu menjadi akar utama permasalahan di berbagai negara, seperti Indonesia. Berdasarkan CPI (Corruption Perceptions Index) tahun 2014, secara global terdapat lima (5) negara yang memiliki skor tertinggi. Negara-negara tersebut adalah Denmark (92), Selandia Baru (91), Finlandia (89), Swedia (87), dan Swiss (86). Sedangkan lima (5) negara yang memiliki skor terendah adalah Somalia (8), Korea Utara (8), Sudan (11), Afghanistan (12), dan Sudan Selatan (15). Untuk Indonesia (34) menempati urutan 107 dari 175 negara yang diukur. Skor CPI Indonesia 2014 naik 2 poin dan naik 7 peringkat dari tahun sebelumnya. Kenaikan skor dan peringkat CPI 2014 ini patut diapresiasi sebagai kerjasama antara pemerintah, masyarakat sipil, dan pebisnis dalam upaya mencegah dan memberantas korupsi.

 

Secara langsung maupun tidak langsung, korupsi juga telah menghina ideologi kita Pancasila yang ‘kabarnya’ merupakan simbol cita, rasa & raga Indonesia. Bagaimana dengan realisasinya? Ayo kita periksa.

  1. Ketuhanan yang Maha Esa – fakta: semua koruptor di Indonesia memiliki  agama dan bukan seorang Atheis. Padahal, setiap agama selalu mengajarkan kebaikan dan tidak ada agama yang mengajarkan kaumnya untuk korupsi.
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab – fakta: pada poin ini, realisasinya sangat memprihatinkan, buktinya hukuman bagi koruptor kelas kakap dan pencuri 1 buah semangka adalah sama, yaitu tahanan ± 3 tahun penjara serta denda yang diajukan. Apakah itu yang dimaksud kemanusiaan yang adil dan ‘beradab’?
  3. Persatuan Indonesia – fakta: kapan negeri ini bersatu jika masih ada jurang yang sangat dalam antara si kaya dan si miskin?
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan – fakta: setiap masalah korupsi di negeri ini mutlak diputuskan oleh aparat berwenang yang terkadang mengesampingkan aspirasi masyarakat yang sebenarnya. Padahal kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat, tetapi kapan mereka semua mendengar dan mewujudkan aspirasi rakyat? Selalu saja para koruptor diberikan kelonggaran dalam menjalani hukuman, jelas-jelas koruptorlah yang banyak merugikan negara, mengapa masih diberi ampun? Apa ini yang namanya kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan?
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia – fakta: korupsi melambangkan rasa ketidakadilan karena didasarkan oleh rasa ingin menguasai segala sesuatunya ‘sendiri’, padahal aset-aset tersebut milik negara. Kapan kita dapat merubah hal-hal tersebut? Jawaban tentu ada ditangan kita bersama.

 

Namun, kita perlu menggali lebih dalam bagaimana potensi kita sebagai pemuda dapat berpengaruh baik untuk bangsa ini, khususnya dalam mencegah dan memberantas korupsi. Tidak ada yang tidak mungkin untuk kita raih. Walaupun bangsa ini tak henti-hentinya dihujani masalah korupsi, namun harapan akan selalu ada. Masyarakat sipil menaruh harapan baik terhadap Open Government Partnership (OGP) dalam mendorong transparansi, akuntabilitas dan partisipasi di Indonesia. Mereka juga optimis dapat berperan dalam inisiatif ini. Namun sekali lagi, kita jangan berhenti pada tingkat memahami. Kita dapat bergabung dengan salah satu organisasi yang berperan aktif dalam gerakan anti-korupsi, yang bukan mengandalkan demonstrasi tanpa efek berkelanjutan, namun organisasi yang mampu menjembatani aspirasi masyarakat terhadap pemerintah, serta melakukan aksi seperti sosialisasi warga untuk mengenalkan bahaya laten korupsi, penelitian atau investigasi secara berkala. Kita juga dapat membudayakan anti-menyontek kepada anak-anak usia dini dalam lingkungan sekitar kita, kemudian memberikan edukasi mengenai gerakan “Jujur itu Hebat” atau menggerakkan khalayak ramai supaya berani melaporkan segala bentuk tindakan korupsi di wilayah setempat. Hentikan permisivitas terhadap praktik korupsi. Kita harus paham melapor ke siapa, bagaimana cara melaporkan praktik tersebut, dan berani terhadap konsekuensi atas laporan yang diberikan. Untuk apa kita takut selama kita yakin bahwa perbuatan kita benar?

 

Selain itu, kita juga perlu menambahkan pendidikan karakter, seperti patriotis dan nasionalis dalam kurikulum pendidikan kita, baik secara praktik dan teori. Hal tersebut penting, supaya anak-anak mendapat bekal pengetahuan yang cukup untuk tumbuh menjadi generasi yang berintegritas dan bertanggung jawab akan apa yang menjadi hak dan kewajiban mereka kelak. Aplikasi edukatif “Siap BerAKSI” yang dapat diunduh oleh pengguna Android dan iOS, juga mampu membantu masyarakat Indonesia untuk lebih mudah memahami definisi, siapa, bagaimana, dan alasan bagi kita, mengapa kita harus berkontribusi untuk melawan korupsi. Aplikasi ini berhasil diluncurkan oleh KPK pada 2013 lalu. So Updaters, ada banyak cara untuk kita peduli bersama melawan korupsi dalam berbagai lini. Biasakan jujur dan terbuka dalam setiap kepentingan, khususnya yang berkaitan dengan orang banyak. Dengan adanya keterbukaan tersebut, kita sebagai mahasiswa juga dapat mengamati segala bentuk kegiatan dan berani melaporkan jika terdapat bentuk tindakan KKN dalam lingkungan sekitar, misalnya di tingkat universitas. Mari kita tegas dan nyata dalam konteks “katakan selamat tinggal pada korupsi!”

 

Sumber:

Data

http://www.ti.or.id/index.php/publication/2014/12/06/corruption-perceptions-index-2014

Gambar

http://www.bloggerborneo.com/siap-beraksi-aplikasi-edukasi-anti-korupsi-dari-kpk/

Author: mega
Kreatif, produktif dan positive thinking (ini harga mati!) :D