Lebih Dekat dengan Claudia Syarifah

 

“Kita, sebagai Warga Dunia ini, berasal dari nations yang berbeda-beda, kita punya warna kulit yang beda, kebudayaan kita pun beraneka ragam, tetapi sebenarnya, kita semua memiliki satu persamaan yaitu sama-sama menghargai perbedaan. Karena kita tinggal di bumi yang sama, kita adalah satu. Ya.., kita adalah satu. Kita punya keluarga dimanapun, di belahan dunia manapun..”

Updaters, kalimat diatas merupakan salah satu kutipan yang diucapkan oleh Claudia Syarifah, Satu-satunya Mahasiswi dari Indonesia yang berhasil memenangkan Many Languages, One World Student Essay Contest melalui essaynya yang bertemakan Gender Equality, yang pada akhirnya membawa dirinya untuk berpidato di General Assembly of the United Nations atau yang lebih dikenal dengan PBB, di Amerika Serikat. Di sela-sela kesibukannya yang padat, Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Diponegoro Semarang ini, berkenan berbagi pengalaman ‘emas’ nya dengan saya selama 7 hari berada di New York.

Sebelumnya, mahasiswi yang mengambil konsentrasi pendidikan Transnational Crimes ini terlebih dahulu menjelaskan tentang kompetisi yang ia ikuti.  Many Languages, One World Student Essay Contest merupakan sebuah kompetisi yang diadakan oleh ELS Educational Services, Inc. bekerja sama dengan United Nations Academic Impact atau disingkat UNAI. Kompetisi ini menantang para mahasiswa di seluruh dunia untuk menulis sebuah essay dalam satu topik yang spesifik mengenai United Nations Post-2015 Substainable Development Agenda. Dari 3500 mahasiswa di dunia yang ikut berpartisipasi dalam kontes ini, hanya diambil 70 pemenang dari 42 negara, merekalah yang diberi kesempatan untuk menyampaikan pidatonya di PBB. Mengacu pada peraturan dari kompetisi tersebut yang mengharuskan kontestan untuk menulis essay mempergunakan 6 bahasa resmi PBB diantaranya Inggris, Perancis, Spanyol, China, Rusia, dan Bahasa Arab serta tidak mempergunakan bahasa pertama dari kontestan, Claudia memutuskan menulis essay dengan mempergunakan Bahasa Arab. Selain essay yang ia tulis, pidato yang ia sampaikan di General Assembly of the United Nations serta presentasi yang ia lakukan di Adelphi University, pun ia sampaikan dengan mempergunakan Bahasa Arab. So Updaters, yuk simak  hasil wawancara saya dengan Claudia Syarifah di bawah ini.

 

A         : Hi Claudia! Would you mind to tell me about yourself?

C         : (sambil tertawa) Aku sebenarnya enggak bisa menilai diri sendiri ya… Mudahnya, aku adalah orang yang enggak terlalu pintar, tetapi apa yang bisa dilihat dari aku adalah Kekarepan itu dari Bahasa Jawa yang artinya Kemauan. Kemauanku tuh tinggi. Ya salah satu dari 3 hal yang ada dalam diriku. Aku punya kemauan yang tinggi, aku selalu mencoba berusaha secara maksimal, dan tak lupa, aku selalu positive thinking sama Tuhan, karena Tuhan adalah apa yang hambanya prasangkakan. Aku selalu berusaha memahami apa yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik. Contoh kecil, Many Languages, One World Student Essay Contest  ini, bukan yang pertama buatku, di Tahun pertama kontes ini, aku juga submit essay ku dan berhasil sampai tahap interview, sayangnya aku enggak lolos untuk bisa speech di PBB. Tuhan memberi aku kesempatan kedua dengan bisa submit lagi di Tahun kedua kompetisi ini. Alhamdulillah, aku lolos menjadi salah satu dari 70 pemenang. Tuhan memiliki rencana lain buatku, kalau di tahun pertama aku seperti kurang pengalaman dan kesiapan karena aku masih ada di semester 4 kala itu, masih terlalu dini, di tahun kedua ini, aku benar-benar siap dan memiliki tujuan yang lebih jelas. Maka dari itu, aku selalu berprasangka baik sama Tuhan. Dan intinya, bagaimana diriku, adalah 3 hal yang aku sampaikan diatas tadi.

            A         : Tentang essay dan speechmu, ada 70 orang dari 42 Negara di dunia yang menjadi pemenang kontes ini. How can you be one of them?

C         : Aku rasa… Diplomasi he he. Jadi saat sesi wawancara, ada masalah dengan audioku sehingga jadwal interview ku harus diundur dari jadwal yang semestinya. Saat jeda yang kira-kira satu minggu itu, aku menulis email untuk mereka (panitia) disana. Dalam email itu aku utarakan bagaimana tujuan hidupku yaitu berkontribusi secara positif di dunia ini dan aku juga utarakan bahwa keterlibatanku dalam forum ini akan sangat membantu nantinya dalam mewujudkan tujuanku, bahwa kesempatan ini adalah yang aku nantikan. Aku mencoba berdiplomasi disitu. Mungkin memang bukan factor yang utama, tapi bisa menjadi salah satu triknya. Hal ini, terbukti ketika sampai disana, aku sangat disambut baik oleh mereka, sangat hangat sambutannya. Lalu, kenapa mungkin aku bisa jadi bagian dari forum ini adalah, aku sebelumnya pernah gagal dan aku memilih untuk enggak menyerah, bagaimanapun hal itu keliahatan mustahil di mata beberapa orang, ketika aku memiliki satu kemauan, aku akan jalani itu dengan sungguh-sungguh. Ketika bikin essay ini, aku menghayati sekali, sebelum lahir tulisan-tulisanku, aku terlebih dahulu membuat lukisan yang aku rasa bisa menggambarkan apa yang mau aku utarakan ke orang, jeda satu minggu aku mulai menulis essayku. Tujuanku barangkali cukup jelas mengikuti kontes ini, aku mau dunia itu damai, makanya aku akan lakukan dan belajar apapun untuk bisa mewujudkannya.

A         : Darimana kamu dapat info-info untuk kontes semacam ini?

C         : Aku tertarik dengan United Nations, jadi secara berkala aku buka situsnya UN kala itu. Saat sedang buka situsnya, ada pengumuman tentang kontes ini. Akhirnya di tahun pertama pelaksanaann kontes ini, aku submit essay. Namun, karena enggak lolos, tahun kedua aku coba lagi, untuk info, aku dapat dari salah satu dosenku, dia kirim infonya saat itu melalui email.

A         : Mengapa kamu pilih tema Gender Equality?

C         : Aku melihat, apa yang terjadi di dunia ini. Semua kekacauan, perang, kerusuhan, kemiskinan bisa terjadi karena kita enggak seimbang. Dalam kaitannnya dengan gender, kita butuh femininity sebagaimana kita butuh masculinity. Gender dalam artian bukan hanya laki-laki dan perempuan, tapi lebih kepada ruh dari setiap kebijakan, dia harus seimbang antara femininity dan masculinitynya. Ada kalanya dalam suatu Negara, budaya feminism dan masculine mendominasi salah satunya, akhirnya konsep seimbang itu nggak muncul.             Menurutku, tema gender bisa menaungi 7 tema SDGs (Substainable Development Goals red) lainnya.

A         : Bagaimana kamu bisa menulis essay dan mempresentasikan gagasanmu dalam Bahasa Arab? I think that’s really cool!

C         : Yaa…. Haha aku itu dari dulu sekolah di Madrasah. Sejak SD hingga SMA, atau sama dengan MI, Mts, dan Ma kalau sekolah Madrasah. Nama sekolahku dari MI hingga Ma adalah Hasan Kafrawi, letaknya di Desa Pancur, Jepara. Saat sekolah dulu, setiap minggunya selama satu jam, aku belajar Bahasa Arab. Itulah perjuanganku yang bisa dibilang berat dan pahit ya saat belajar bahasa Arab. Kamu bisa bayangkan dimulai dari SD aku mempelajari Bahasa Arab yang tidak mudah. Paling sulit ketika belajar bahasa Arab adalah  belajar Nahwu, Shorof, Balaghoh atau belajar tata bahasa dan sastra Bahasa Arab, ibaratnya grammar dan tenses dalam bahasa Arab supaya tulisan kita indah kata-katanya sehingga enak dibaca. Meskipun saat menulis essay ada kesulitan karena aku belajar bahasa Arab sudah cukup lama, namun karena apa yang disampaikan guru-guru kami, kami jadi punya semangat untuk belajar dan berusaha. Apa yang disampaikan guru-guru kami, tidak hanya menutrisi otak, namun juga menutrisi hati.

A         : Kontribusi apa yang kamu berikan melalui essay yang kamu tulis tentang Gender Equality dan Speech tentang Pendidikan yang kamu sampaikan di PBB bagi dunia?

C         : Speech ku di UN kemarin aku enggak ngomongin soal gender, aku ngomongin soal pendidikan, aku baru tahu kalau aku harus speech soal pendidikan, yaa saat aku sampai ke  new york, kira-kira dua hari sebelum waktu speech ku. Kalau untuk kontribusi bagi dunia, tentu aja aku mau mencapai tujuanku yaitu perdamaian. Tapi untuk skup kecilnya, aku rasa beberapa orang yang mungkin pernah membaca essay ku bilang mereka menikmati apa yang aku tulis, menjadi tahu sesuatu, dan tergerak untuk mencari tahu lebih tentang hal yang aku tulis..

A         : Apa Golden Moments di New York?

C         : Saat aku mendapat 69 teman dari 41 negara yang berbeda selama 7 hari aku berada di sana. Sangat-sangat berkesan karena kami begitu dekat layaknya keluarga.. Teman-temanku disana, meskipun rata-rata gelarnya Phd, rata-rata professor, dan aku jadi yang termuda, tapi mereka memperlakukan ku dengan sangat baik, apa ya….ngemong sekali saat aku berada disana. Rasanya senang ketika aku pulang ke Indonesia, kemudian ada kabar baik dari mereka ketika pulang ke negaranya. Golden moments ku adalah ketika aku diberi kesempatan untuk mengenal mereka, mengetahui cara mereka semua belajar, luar biasa! Mereka belajar bahasa arab hanya dalam waktu dua bulan! Dan selama dua bulan, mereka tak hanya belajar sekali seminggu layaknya aku, tetapi setiap hari, secara rutin, mereka mempelajari Bahasa Arab, mempelajari Nafwu, shorof, balaghoh yang sama seperti yang aku pelajari. Cara belajar seperti itu, sepatutnya aku contoh di Indonesia, karena terbukti efektif. 7 hari dengan mereka, adalah saat-saat yang tidak terlupakan.

A         : Apa peran orang-orang yang ada di lingkungan pendidikanmu dalam mendukung perjalanan karirmu?

C        : Di Jurusanku, Hubungan Internasional Universitas Diponegoro, aku memiliki tenaga pendidik, yaitu dosen-dosen yang tak hanya menginspirasi namun juga membantu aku untuk bisa melakukan pencapaian ini. Di HI, aku belajar dan melakukan segala hal dengan Disiplin tinggi. Itu karena Ketua Prodiku, Pak Tri Cahyo Utomo mengajarkan demikian. Bagiku, Disiplin adalah kunci sukses semua orang, dan aku masih terus berusaha menerapkan itu karena berhasil di semua aspek kehidupanku. Kemudian, di tahun kedua pelaksanaan Many Languages, One World Student Essay Contest, aku enggak mendapatkan sendiri infonya seperti kontes yang pertama, dosenku, biasa ku panggil Mas Mohamad Rosyid lah yang mengirimi aku email soal kompetisi ini, beliau pula orang yang membaca essayku sebelum aku submit ke ELS. Beliau adalah seorang penulis hebat, yang menginspirasiku dan teman-temanku di HI.

A         : Apa yang memotivasimu?

C         : (sambil tertawa) aah, aku jadi terharu sedikit ketika membicarakan ini.. yang memotivasiku adalah Kakek dan Nenekku. Aku tinggal dengan mereka saat aku kecil. Mereka memberi aku pesan yang sampai saat ini masih kuingat ; Hidup harus berguna, hidup harus bisa memberi manfaat bagi orang lain. Saat lelah atau down, aku selalu ingat itu, aku merasa tidak boleh cengeng, dan aku selalu berusaha tepatin janji aku ke mereka, untuk hidup dan menjadi berguna.

A         : Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?

C         : Yang pertama, aku mau mempelajari bahasa asing, aku merasa dengan mempelajari bahasa asing, aku bisa mengenal dan memahami orang-orang dan kebudayaan mereka. Bayangkan betapa senangnya kamu ketika ada orang asing yang berbicara dalam Bahasa Indonesia. Kamu akan merasa respect dengan mereka. Nah, hal demikian juga berlaku bagi kita, ketika kita banyak mendengar mereka, banyak belajar, maka kita akan lebih memahami banyak kebudayaan di dunia ini. Yang kedua, aku barangkali mau melanjutkan S2-ku di Harvard, doakan saja, aku mau ambil konsentrasi Hukum Internasional, karena cakupannya luas.

A         : 5 Facts about Claudia Syarifah!

C         : 1. Makan kesukaan Capcay,

  1. Minuman kesukaan Kopi buatan kakek
  2. Tokoh favorit, Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga atau Holing, dia adalah Ratu yang cerdas, adil, dan bijaksana sesuai cerita yang suka dibacakan nenekku saat aku kecil.
  3. Buku favorit, karya-karya Sun Tzu, beliau adalah Strategist Perang Tiongkok.
  4. (sambil tertawa) I am a Cat person!

 

A         : Pesan-pesanmu buat Updaters?

C         : 1. Jangan mudah menyerah,

  1. Kalau memiliki ketertarikan dengan sesuatu kejar terus hal itu sampai kemanapun, intinya berusaha keras,
  2. Selalu Positive Thinking dengan Tuhan.

 

How to Contact Claudia Syarifah :

Email  : claudia.syarifah@yahoo.co.id