Dari Magang jadi Sayang, Keseruan Magang di EduLab

DKV. Ketika kata ini terdengar, ada banyak hal yang muncul di pikiran setiap orang yang mendengarnya. Dari mulai berantakan, gondrong, tidak disiplin, santai, bahkan cenderung akan ter-visualisasi seorang seniman gondrong yang tengah berada di dalam ruangan penuh tumpahan cat. Sebuah persepsi yang agak melenceng dari apa itu DKV sebenarnya.

Oke, saya Muhammad Ihsan Sidik (23) masih terdaftar sebagai mahasiswa DKV (Desain Komunikasi Visual) di Universitas Pasundan Bandung. Pada semeseter kedua tahun ini, saya diharuskan mengikuti program mata kuliah Kerja Profesi atau yang sering kita kenal dengan istilah magang.

Ihsan1

Nah, saya bukanlah seorang ‘debutan’ dalam hal permagangan karena di zaman sekolah dulu (SMK) ada juga waktu yang diberikan kepada muridnya untuk melaksanakan Pelatihan Kerja Lapangan (PKL). Tentunya hal ini membuat saya lebih siap dibandingkan yang pertama kali akan melaksanakan magang. Dimulai dari prediksi akan pekerjaan apa saja yang diberikan, hingga perlakuan yang didapat. Tapi, guys. Alhamdulillah, yang terjadi adalah di luar prediksi saya.

EduLab (Education Laboratory) adalah sebuah instansi yang bergerak di bidang konsultan pendidikan, atau lebih dikenal sebagai tempat bimbel (bimbingan belajar) dengan harga dan kualitas yang cukup ‘berkelas’. Tempat inilah yang menjadi tempat saya magang selama kurang lebih 3 bulan.

Saya magang di Edulab sebagai motion designer atau sebagai pembuat konten-konten motion graphic. Sedikit aneh, karena saya sendiri baru mendalami motion graphic di tahun ini. Selama bekerja sebagai magang-ers di sini, rasa kaku menyerang dengan sangat intens. Walaupun rekan setim sebenarnya humble dan ya bisa dibilang bodor (kocak, sunda), bahkan CEO nya saja sangat merakyat dan tidak segan untuk menyapa. Tapi ya kejomplangan lingkungan tadi lah yang membuat agak sedikit kaku seperti halnya penguin yang tiba-tiba hidup di hutan tropis. Hal ini tidak berlangsung lama, dengan adanya program Taklim mingguan yang mempertemukan beberapa karyawan sambil membaca Al-qur’an bersama dan ceramah singkat, sedikit demi sedikit es tadi sudah mulai mencair. Ke-humble-an anggota-anggota tim pun membuat saya merasa sangat diterima di tempat ini. Pekerjaan pun tidak dipilah-pilah, saya diberikan pekerjaan sesuai porsi yang bahkan benar-benar meningkatkan kemampuan saya di bidang Motion Graphic. Dan, apresiasi tinggi yang diberikan kepada saya membuat saya semakin percaya diri untuk berada di lingkungan baru ini.

Luar biasa memang, kekeluargaan yang tercipta di lingkungan yang cenderung Islami ini membuat setiap orang yang ada di dalamnya merasa dihormati dan dihargai. Itu poin pentingnya. Selain tentu sebagai mahasiswa magang adalah pengalaman mengimplementasikan pengetahuan lah yang penting.

Belum lagi jika berbicara tentang keseruan-keseruan menjadi bagian dari EduLab, yaitu adalah setiap prosesnya membutuhkan kerja sama antardivisi. EduLab juga berintegrasi dengan EduPlex Co-working Space and Cafe, karena merupakan Sub-Business Unite Edulab. Sebagai tim desain, BnC menyediakan segala kebutuhan desain bagi setiap anak perusahaan EduLab seperti EduPlex, EGS, dll, yang otomatis akan membuat kami harus bekerja seperti sebuah agensi yang melayani kebutuhan klien. Berhubungan langsung dengan ‘klien’ inilah yang membuat keseruan-keseruan itu hadir. Misalnya, ketika EduPlex membutuhkan desain menu makanan & minuman terbaru, kami akan membuatkan desain menu itu sampai final artwork, dan yang paling menarik adalah ketika melakukan photoshoot untuk makanan & minumannya. Yang secara otomatis lagi, makanan & minuman yang sudah difoto pada akhirnya mendarat di meja kerja kami secara cuma-cuma. Makanan & minuman cafe yang harganya agak galak untuk kantong mahasiswa itu tiba-tiba hadir menghiasai hari-hari kami yang melelahkan. Sedap.

‘Klien’ kami juga sudah tentu dari EduLab itu sendiri, siswa-siswi SMA yang menjadi murid di EduLab, dan edukator-edukator muda yang menjadi pengajar di EduLab pun menjadi ‘bahan eksekusi’ kami. Dari mulai pembuatan video pembelajaran yang seru-seru geli karena edukator-edukator muda yang pastinya malu berhadapan dengan kamera yang dipegangi lawan jenis, hingga hebohnya remaja-remaja tanggung yang menjalani photoshoot dengan tim kami untuk bahan pembuatan desain buku tahunan dan majalah di EduLab. Tempat yang cocok untuk para independen mencari duet hidup.

Suasana kekeluargaannya juga kerasa ketika makan siang. Banyak dari kami yang sering bawa bekal, dan sudah ada ritual makan siang bahwa sebisa mungkin jika makan siang maka akan duduk bersama dan ngobrol. Bahkan hal sekecil seperti hari bawa bekal nasional (12 April 2017), juga dirayakan oleh Edulab.

 Ihsan2

Tim BnC sendiri bukanlah tim besar, kami hanya terdiri dari 8 orang termasuk GM nya, Rizka Khairani. Belum memiliki ruangan kantor tetap ternyata merupakan a blessing in disguise. Kami akhirnya mendiami co-working space di EduPlex. Tempatnya nyaman dan homy, desain interiornya juga tidak membosankan, dan, wi-fi nya kenceng bat. Bisa streaming lagu beralbum-album sambil kerja itu asyik. Bahkan kadang jika sudah capek duduk di meja, kami bisa tiduran di sofa ataupun tiduran di karpet yang memang sudah disediakan banyak bantal warna warni dan menarik. Enjoy pokoknya.

Ihsan3

Sampai pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan ‘ngeri-ngeri sedap’ yang sering dilontarkan kepada mahasiswa tingkat akhir terdengar. “Kapan lulus, San?”. Ya, kalimat tanya ini terdengar positif karena di akhir kalimat itu ada tawaran untuk melanjutkan bekerja di EduLab. Saya dan rekan saya mendapatkan tawaran yang sama. Tawaran yang sulit ditolak karena selain skill yang dapat meningkat seiring exercise yang terus menerus dilakukan, lingkungan kekeluargaan di tempat ini juga sulit untuk tidak diterima. Akhirnya setelah menyelesaikan program magang selama 320 jam kerja, kami memutuskan untuk menandatangani kontrak sebagai freelance-er karena ada beberapa kebutuhan perkuliahan yang harus kami selesaikan dan tidak kami ambil resiko untuk bekerja full-time sedangkan kuliah belum selesai.

Setiap kejadian adalah manik rantai, dan semuanya berhubungan tanpa sedikitpun terputus. Kenal dengan teman yang bekerja di EduLab membuat saya memilih tempat ini sebagai tempat magang, walaupun ketika mengirimkan CV ke beberapa tempat sebelumnya saya sudah mendapat beberapa panggilan, tapi pada akhirnya EduLab lah yang menjadi pilihan. Dan ya, tidak ada penyesalan. Dengan berada di lingkungan yang berbeda dengan lingkungan yang biasa ditempati membuat saya dapat melihat segala hal lebih luas lagi, lebih banyak lagi sudut pandang, dan membuat kemampuan adaptasi lingkungan saya terlatih untuk menjadi lebih baik. Terimakasih EduLab.

Ditulis oleh:

Muhammad Ihsan Sidik – Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Pasundan Bandung