Viani Potrait

8 Kunci Sukses dari Start-up di Silicon Valley.

Viani1

foto: Delegasi ASES Summit 2017, Stanford University, USA

Siapa yang tidak kenal Silicon Valley? Tempat lahirnya perusahaan-perusahaan teknologi ternama di dunia seperti Google, Facebook, dan Apple. Tentu, menjadi satu dari 35 mahasiswa yang berkesempatan belajar langsung dari Silicon Valley merupakan sebuah keistimewaan. Bersyukur, aku terpilih sebagai delegasi Asia-pacific Student Entrepreneur Society (ASES) Summit 2017. ASES Summit adalah kegiatan tahunan yang mengundang 35 mahasiswa dari universitas terbaik se Asia-Pasifik yang memiliki pengalaman dan ketertarikan dalam bidang entrepreneurship, start-up, dan inovasi untuk berkumpul, berdiskusi, dan berkolaborasi. Dalam kegiatan ini, terdapat sesi dengan pembicara-pembicara dari Silicon Valley, workshop tentang design thinking, tur ke beberapa perusahaan di Silicon Valley dan pitching competition yang dinilai langsung oleh juri dari Silicon Valley. Tentu banyak sekali yang didapat dari konferensi ini. Selain networking dengan peserta dari 13 negara di Asia Pasifik yaitu Kanada, USA, Australia, Filipina, Vietnam, China, Taiwan, New Zealand, Singapore, Russia, India, dan Brazil, terdapat berbagai pelajaran yang bisa diambil dibalik kesuksesan start-up di Silicon Valley. Penasaran?

Working on problem that matters to you. Find your authentic passion.

Selama satu minggu, kami diberi kesempatan untuk menggali ilmu langsung dari start-up Silicon Valley. Terdapat beberapa pembicara terkenal seperti Brian Acton (Co-founder WhatsApp), Garry Tan (founding partner of Initialized Capital, former partner at Y Combinator), Piya Sorcar (Founder of TeachAIDS), Ashwin Ram (Senior Manager at Amazon Alexa), dan masih banyak lainnya. Dari semua pembicara yang berbagi pengalamannya, terdapat satu karakteristik utama yang aku temukan yang dimiliki oleh kebanyakan founder start-up di Silicon Valley. Hal tersebut adalah passion. Passion terhadap permasalahan yang ingin dipecahkan merupakan kunci keberhasilan start-up. Mr. Richard Dasher, director of US-Asia Technology Management Center dalam salah satu keynote speechnya mengatakan “No entrepreneur care about the money, they care to improve the world”. Motivasi ini akan menjadi kunci persistensi seorang founder dalam mendirikan Start-up. Founder of Start X, Cameron Teitelman bahkan mengatakan “Bergeraklah pada masalah yang membuat kamu memikirkan hal tersebut setiap hari.  Jangan memulai sesuatu jika kamu tidak yakin bahwa kamu akan bertahan mengerjakan hal tersebut selama 10 tahun.”

Viani2

foto: delegasi ASES Summit dengan Brian Acton, Co-founder Whatsapp.

Listen, Brainstorm, and Repeat

So, after get your motivation? What’s next? Ide bisnis seperti apa yang akan sukses di masyarakat? Salah satu favoritku dalam kegiatan ASES Summit adalah design thinking workshop. Silicon Valley sangat terkenal dengan frameworknya Design Thinking. Design Thinking adalah sebuah konsep yang digunakan untuk mendesain solusi untuk sebuah masalah yang berbasis pada manusia (human-centric). Dalam kegiatan ini, kami benar-benar berpartisipasi langsung untuk mengaplikasikan proses design thinking terutama di bagian empathize dan ideate. Kami diajarkan langsung oleh Dennis Boyle (Founding member of design firm, IDEO), tentang cara berlatih untuk menciptakan ide kreatif melalui beberapa permainan. Konsep design thinking ini sangat dikenal di kalangan Silicon Valley sebagai kunci sukses untuk mencipatakan inovasi. Satu hal yang sangat ditekankan dalam konsep ini adalah, fokus untuk mengetahui apa yang orang pikirkan dan rasakan daripada apa yang mereka katakan dan lakukan. Ide yang sukses sering muncul dari kebutuhan yang belum tersirat sebelumnya. Hal yang terpenting juga adalah kita harus memahami bahwa ide yang sukses muncul bukan dari hasil pemikiran sekejap mata. Butuh proses yang panjang, iterasi dalam memperbaiki ide, untuk akhirnya muncul sebuah ide yang bisa diterima oleh masyarakat.

 Viani3Viani4

foto: Design Thinking Workshop bersama Dennis Boyle

 

Don’t afraid to make mistake, be different.

“Be contrarian. Most people do something that people see as high quality. You have to be different.” Begitulah pesan dari Garry Tan mengenai betapa pentingnya untuk percaya diri terhadap apa yang kita lakukan. Terkadang hal yang terjadi di Silicon Valley, adalah ide yang dianggap bodoh sering berubah menjadi hal yang sukses. Beliau mengatakan bahwa ide yang dianggap bodoh dan yang sukses itu beda tipis, terkadang kita cuma perlu menemukan the sweet spot, irisan antara ide yang terlihat bodoh dan yang sukses. Founder yang hebat biasanya memiliki unexpected insight. Entah pemikiran itu tidak pernah dipikirkan orang lain atau orang lain berpikir sebaliknya.

Viani5

Foto: setelah sesi “What I wish I knew before 20” bersama Garry Tan

 

Keep persistent but move fast.

Sebuah start-up yang sukses mengalami proses yang panjang dan berliku-liku. Brian Acton dalam sesinya berbagi cerita bagaimana dia mulai mengembangkan bisnis model WhatsApp yang sesuai mulai dari WhatsApp berbayar hingga akhirnya gratis seperti sekarang. Persisten bukan berarti bertindak lambat. “Learn from the failure, move fast. Don’t wait, take initiative.”. Piya Sorcar, founder of TeachAIDS juga berbagi cerita mengenai pengalaman susahnya meyakinkan tokoh masyarakat untuk terlibat dalam program mengajar AIDS. Banyak orang yang menganggap pendidikan tentang AIDS adalah hal yang tabu, satu-satunya yang dapat membuat saya dan tim sukses meyakinkan mereka adalah persistensi. Di akhir sesi, beliau juga mengatakan bahwa Sukses datang dari minat dan dedikasi. “It’s not enough to have passion, when you don’t have dedication on it.”

 Viani6

foto: sesi bersama Piya Sorcar, Founder of TeachAIDS

 

It’s about people.

It’s about people whom you surround with. Your success depends on people you work with. Ya, sukses dibentuk dari sebuah kolaborasi tim yang baik. Menurut Cameron Teitelman, salah satu kunci sukses sebuah tim yang beliau amati dari start-up di Silicon Valley adalah respect & trust. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki orang-orang dengan visi yang sama dalam satu tim. Ketika satu tim memiliki motivasi yang sama, akan mudah bagi tim tersebut untuk terus persisten dalam mengembangkan start-up meskipun kegagalan harus dilalui.

 

Right growth mindset.

Satu hal unik yang aku pelajari di Silicon Valley adalah pola pikir tumbuh mereka. Pertama, start-up di Silicon Valley selalu fokus. Salah satu pesan founder of Pixlee, Kyle Wong, “Be focus, winning small battle is worth than lose in every battle”. Di awal merintis sukses, fokus pada satu masalah yang ingin kamu pecahkan. Utamakan sukses jangka panjang dibandingkan sukses sementara. Banyak start-up yang gagal karena terlalu terburu-buru mengejar kesuksesan dalam waktu yang cepat. Kedua, tetap fleksibel. Mike Maples dalam sesinya bilang, “Learn from prime movers, they balance flexibility with strategic rigor.” Prime movers adalah perusahaan yang memegang pengaruh dalam industrinya, seperti apple dan starbucks. Mereka fokus pada visi yang ingin dicapai, tetapi tetap fleksibel dalam mencari cara mencapai visi mereka. Ketiga, jangan takut untuk melepaskan kontrol demi pertumbuhan yang berkelanjutan. Menurut Mr. Richard Dasher, salah satu yang disayangkan pada mayoritas start up di Asia adalah sulitnya melepaskan kontrol ketika mereka sudah tumbuh stabil. Hal ini terlihat pada konversi start-up di Asia yang menjadi IPO atau menjadi akuisisi perusahaan lain. Padahal menjadikan perusahaan tersebut perusahaan publik akan menciptakan potensi start-up baru. Founder yang sudah melepaskan start-up ke publik, akan bisa menciptakan start-up baru lagi yang tentunya dapat menyelesaikan masalah-masalah lain yang ada di dalam masyarakat. Inilah tren yang diamati di Silicon Valley, atau dikenal dengan istilah serial entrepreneur.

Be ready to work in diverse environment.

Satu pengalaman yang tidak kalah menarik dalam summit ini adalah memiliki keluarga internasional baru. Selama 7 hari disana, aku bekerja dalam satu tim bisnis yang berasal dari negara Indonesia, Filipina, China, dan Taiwan. Memiliki tim yang berasal dari negara lain merupakan suatu tantangan tersendiri. Sulitnya bahasa, perbedaan budaya dan pemikiran menjadi kendala. Namun, disitulah kami belajar bagaimana mengelola tim yang memiliki begitu banyak perbedaan. Bekerja dalam lingkungan yang beragam, membuat kami menjadi pribadi yang dapat mudah beradaptasi dan terbuka pada pemikiran-pemikiran baru. Selain itu, networking yang tercipta dari tim ini pun menjadi modal kolaborasi yang sangat penting dalam mengembangkan bisnis di masa depan. Hal ini disampaikan oleh Tom Kosnik, Stanford Professor, “alasan mengapa Silicon Valley merekrut tim dari berbagai negara adalah untuk memudahkan mereka dalam mengembangkan bisnis secara global, membuka pasar baru di negara lain, karena mereka sudah memiliki orang yang mengerti bagaimana caranya untuk masuk ke pasar tersebut.”

 Viani7Viani8

Foto: tim kami yang terdiri dari 1 orang Indonesia, 2 orang Filipina, 2 orang China, dan 2 orang Taiwan.

Communicate your ideas well.

Tak bisa dipungkuri bahwa untuk memulai start-up dibutuhkan modal yang biasanya didapat melalui pitching. Untung, kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan pitching langsung di depan juri dari start-up Silicon Valley, yaitu Ricardo Corona (former investor at Comet Labs), Alex Selig (senior product manager at Pandora), Olivia Moore (Associate at Highland Venture Partner), dan Dr. Richard Dasher. Satu kunci utama yang kami dapatkan dalam menyampaikan ide adalah be passionate. Karena energi ketika kamu memiliki passion terhadap apa yang kamu kerjakan akan sangat tampak ketika pitching dan hal ini lah yang pertama diliat oleh juri.  Selain itu, tunjukan bahwa ide kamu adalah ide yang pantas untuk dipilih. Karena pada prinsipnya, setiap ide akan memiliki resiko. Namun, yang dicari oleh juri adalah “which risk is worth taking than others.”

Viani9

Foto: tim kami dalam pitching competition.

Itulah delapan kunci sukses utama yang saya dapatkan dari Silicon Valley. Secara keseluruhan, pengalaman mengikuti kegiatan internasional selalu akan membawa kamu pada hal-hal tak terduga, entah itu ilmu, teman, bahkan cerita-cerita yang memberi pelajaran tersendiri. Sedikit berbagi tentang bagaimana saya bisa sampai ke sini, kunci sukses meraih pengalaman internasional adalah percaya diri dan persistensi. Satu hal yang perlu dimiliki sebelum memulai pengalamanmu, jangan pernah takut untuk memulai sebuah pengalaman. Jangan pernah menunggu untuk siap, karena kamu gak akan pernah siap. Tapi tantang diri kamu, percayalah pada kemampuan yang kamu miliki. Jikalau nanti gagal, jadikan itu sebuah pelajaran untuk memperbaiki kualitas diri. Tetap terus persisten untuk mencoba dan jangan pernah menyerah. Karena sejatinya, kesuksesan akan datang tepat ketika diri kamu sudah siap dan memiliki kualitas diri yang lebih baik. Selamat berpengalaman internasional!

 

Ditulis oleh:

Viani Hafiza – Mahasiswa Manajemen Rekayasa Industri Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung