KUblog15 (2)

Pengalaman Mengikuti the 15th Indonesian Scholar International Convention (ISIC) PPI UK

Masa sebagai mahasiswa adalah masanya belajar berbagai hal baru.

 

KUblog15

Foto 1. Upacara Pembukaan The 15th Indonesian Scholar International Convention (ISIC)

Kurang lebih begitu ucapan seorang teman saat dimintai pendapat tentang masa-masa menjadi seorang mahasiswa. Saya yang penasaran dengan kebenaran ucapan tersebut mulai mencoba berbagai kesempatan belajar yang ada.  Salah satunya adalah The 15th Indonesian Scholar International Convention (ISIC) yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom (PPI UK) pada 3 – 4 Oktober 2015. Bertempat di King’s College London, acara ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan tokoh-tokoh Indonesia yang menempuh studi dan berkarir di berbagai negara.

ISIC yang kala itu memasuki tahun ke-15 merupakan sebuah konferensi pelajar Indonesia terbesar di Inggris Raya. Konferensi ini terdiri atas beberapa kompetisi yaitu Call for Paper, Call for Essay, dan Debate Competition. Saya dan dua orang teman dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, tergabung dalam sebuah tim yang mengikuti cabang lomba Call for Paper. Proses awal yang harus kami lalui adalah seleksi extended abstract yang dilakukan secara virtual. Ratusan extended abstract yang terkumpul kemudian diseleksi kembali untuk menentukan karya yang berhak lolos ke tahap full paper. Setelah pengumuman yang menyatakan bahwa extended abstract milik kami lolos ke tahap selanjutnya, kami pun segera menyusun full paper. Alhamdulillah, full paper karya kami terpilih sebagai selected full papers yang berhak untuk dipresentasikan di acara puncak ISIC yaitu Academic Conference di London.

Mengikuti konferensi pelajar Indonesia di luar negeri merupakan pengalaman baru untuk saya sekaligus menandai perjalanan pertama saya ke London. Setibanya di sana, saya bertemu ratusan mahasiswa Indonesia dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai mahasiswa S1 hingga kandidat S3 berkumpul di satu tempat dan saling berbagi ide. Mereka merupakan mahasiswa Indonesia yang datang dari berbagai kampus di dunia. Ada yang datang mewakili kampusnya di Inggris, Australia, New Zealand, Taiwan, dan masih banyak lagi. Sebuah fakta yang menarik bahwa para intelektual muda Indonesia kini tersebar di berbagai negara.

Agenda ISIC selama dua hari terdiri atas seminar yang dilanjutkan dengan presentasi full paper terpilih. Hari pertama ISIC diisi dengan upacara pembukaan yang dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Raya. Selepas upacara pembukaan, sesi seminar yang menghadirkan para ahli selaku pembicara pun dimulai. ISIC yang mengusung tema Implementing Sustainable Development Concept in Indonesia: Assessing and Advancing Innovative Solution and Strategies, berhasil mengundang pembicara dari berbagai profesi dan institusi ternama. Para pembicara seminar ISIC terdiri atas perwakilan Bank Indonesia (BI) London, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Republik Indonesia (LPDP RI), Robert Gordon University, Cranfield University, British Council, dan UK Higher Education International Unit. Topik yang dibahas dalam sesi tersebut mencakup kondisi ekonomi secara garis besar dan pendidikan di Indonesia. Dari perbincangan tersebut, para peserta mendapatkan informasi bahwa kini pemerintah Inggris dan Indonesia tengah mengupayakan kerjasama bilateral melalui kolaborasi ilmuwan antar kedua negara tersebut. Hal ini sejalan dengan jumlah penelitian hasil kolaborasi peneliti Indonesia dan Inggris yang secara statistik terus meningkat setiap tahunnya. Kolaborasi kelimuan ini diharapkan dapat membawa angin segar bagi dunia pendidikan sekaligus keberlanjutan pembangunan di Indonesia.

KUblog15 (1)

Foto 2. Sesi Seminar The 15th Indonesian Scholar International Convention (ISIC)

Setelah sesi seminar berakhir, presentasi full paper terpilih pun dimulai. Terdapat 21 karya ilmiah milik para pelajar Indonesia yang dipresentasikan dan dipublikasikan dalam bentuk conference proceeding. Bidang ilmu yang berkontribusi dalam kompetisi ini pun beragam seperti sains dan teknologi, lingkungan, ekonomi, hingga sosial dan budaya. Saya sendiri mendapatkan giliran presentasi di hari kedua dengan mengusung paper bertemakan sustainable tourism development. Mempresentasikan karya di panggung academic conference ISIC benar-benar menjadi pengalaman sarat tantangan bagi saya. Pertama, ini pertama kalinya saya mempresentasikan paper di luar negeri, yang meskipun penyelenggaranya adalah pelajar Indonesia, tetapi mengundang para akademisi dari kampus-kampus ternama Inggris Raya sebagai paper reviewers dan presentation adjudicators. Kedua, saya mempresentasikan karya tulis dihadapan finalis lainnya yang mayoritas adalah mahasiswa S2 dan S3 dari berbagai universitas di dunia. Pada awalnya, saya sempat merasa minder melihat minimnya jumlah mahasiswa S1 yang berpartisipasi sebagai presenter di sana. Namun, seiring dengan berjalannya konferensi, saya menikmati berinteraksi dan bertukar pendapat bersama mereka. Kompetisi ini akhirnya dimenangkan oleh Tania Miranti Chumaira (University College London) sebagai peraih predikat best paper dan Bhima Yudhistira Adinegara (University of Bradford) sebagai best presenter. Meskipun belum memperoleh gelar, saya cukup bangga bisa mewakili Universitas Brawijaya di konferensi ini. Pengalaman, teman, dan ilmu baru yang saya peroleh selama mengikuti ajang ini menjadi pemacu saya untuk lebih produktif dalam berkarya.

KUblog15 (2)

 Foto 3. Penulis saat presentasi karya di The 15th Indonesian Scholar International Convention (ISIC)

Bagi teman-teman yang tertarik untuk mengikuti konferensi akademik di luar negeri, jangan pernah meremehkan kemampuan diri dan teruslah menggali informasi. Saat ini, banyak sekali peluang konferensi untuk berbagai bidang ilmu. Tinggal pilih sesuai bidang yang diminati. Jangan lupa juga untuk terus mengasah kemampuan berbahasa lewat membaca, menulis, dan berbicara. Siapa tahu ide kalianlah yang kelak bisa membangun Indonesia. Selamat berkarya!

 

Ditulis oleh:

Meirna Puspita Permatasari, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya