KUblog14

Mewakili Indonesia dalam The Second ASEAN Foundation Model ASEAN Meeting 2016.

Menjadi wakil Indonesia dalam ajang Internasional merupakan salah satu impian dari sekian banyak orang, tentunya juga saya. Pada Oktober 2016, tepatnya tanggal 1-7 Oktober 2016 saya bersama 6 mahasiswa pilihan lainnya berkesempatan mewakili Indonesia dalam ajang The Second ASEAN Foundation Model ASEAN Meeting 2016, di Vientiane, Laos. Acara yang dilaksanakan selama seminggu ini merupakan ajang kedua kalinya yang diadakan oleh ASEAN Foundation, sebuah badan yang dibentuk oleh ASEAN dalam rangka 30 tahun Commemorative Summit dari ASEAN, badan ini dibentuk oleh pemimpin-pemimpin di negara ASEAN pada 15 Desember 1997 dengan tujuan, untuk terus meningkatkan kemajuan dan kesadaran akan keterikatan yang ada di ASEAN.

Model ASEAN Meeting ini sendiri merupakan ajang kedua yang dilaksanakan setelah sebelumnya dilaksanakan di Malaysia, Model ASEAN Meeting ini merupakan program yang didukung dan didanai oleh ASEAN-US PROGRESS, sebuah proyek bersama antara pemerintahan Amerika Serikat, US Agency for International Development (USAID) dengan ASEAN. Dengan tujuan untuk melibatkan anak-anak muda terbaik di ASEAN untuk bersimulasi menjadi salah satu wakil negara anggota ASEAN untuk membahas isu yang fundamental saat itu.

Acara ini dilaksanakan di International Cooperation and Training Centre (ICTC) diikuti oleh sebanyak 80 mahasiswa dan 10 Academic Advisers dari seluruh ASEAN yang diproses melalui seleksi yang saya lakukan dan memang tidak mudah karena harus melalui beberapa tahap untuk menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia di tingkat ASEAN tersebut. Mahasiswa yang mengikuti dari berbagai negara di ASEAN pun juga datang dari universitas terbaik di ASEAN sebut saja National University of Singapore, Chulalongkorn University, De La Salle University dan masih banyak lagi. Masing-masing negara memiliki 7 peserta dan satu Faculty Advisor.
Untuk mengikuti program ini hanya satu kelompok yang mewakili satu negara, peserta yang terpilih merupakan peserta lebih dari 30 Universitas berbeda di seluruh ASEAN yang diseleksi secara ketat dari berbagai universitas. Seleksi yang dilakukan merupakan seleksi regional dimana satu kelompok yang terpilih akan mewakili negara mereka dalam program yang diadakan untuk peserta 18-25 tahun ini. Setiap tim terpilih terdiri atas 7 Team Member yang merupakan mahasiswa dan satu orang Faculty Advisor yang merupakan akademisi. Dari 7 Orang delegasi Indonesia, berasal dari Universitas Padjadjaran, Universitas Bakrie, Universitas Brawijaya, dan Universitas Islam Indonesia. Faculty Advisor saya sendiri merupakan salah seorang Staf Pengajar dari Ilmu Hubungan Internasional yaitu Drs. Teuku Rezasyah, M.A., Ph.D. Seleksi yang dilakukan adalah melewati proses seleksi dokumen yang berisi prestasi terakhir, kemampuan berbahasa inggris serta tentu saja motivation letter. Tidak cukup sampai disitu peserta yang masuk dalam kandidat shortlisted harus mengikuti proses interview di akhir, dan Indonesia merupakan negara dengan kompetitor terbanyak yaitu 84 kompetitor yang berarti ada 588 mahasiswa terbaik seluruh Indonesia yang juga turut bersaing dalam program fully funded ini.

Kegiatan yang mengambil tema “Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers in ASEAN” ini mengajak peserta untuk berperan menjadi salah satu dirjen dari Negara-negara di ASEAN untuk membahas isu Hak-hak pekerja migran di ASEAN. Proses diskusi ini pun dibagi dalam 3 tajuk atau 3 pillar yaitu ASEAN Political and Security, ASEAN Economic Community dan ASEAN Socio Cultural. Dalam prosesnya peserta berperan baik sebagai Kepala Negara, Menteri maupun Pejabat Senior terkait yang nantinya akan melakukan negosiasi dan diskusi dalam pilar-pilar yang berbeda dibawah tema yang sama, untuk mencapai kesepakatan konsensus. Sebelum kegiatan simulasi berlangsung sejak September para peserta termasuk saya sudah menerima virtual coaching session dari pihak ASEAN Foundation, serta menerima coaching session dari Excecutive Director ASEAN Foundation, Duta Besar Laos, Menteri Luar Negeri Laos dan para ahli yang berperan dibidang diplomasi dan hubungan luar negeri untuk memberikan pengetahuan yang lebih dalam mengenai ASEAN.

Saya sendiri berperan sebagai salah satu Minister of Socio and Cultural of Malaysia dimana saya berperan untuk mewakili interest yang dimiliki Malaysia dalam permasalahan pekerja migran. Jika kalian sering mengikuti Model United Nations kegiatan ini bisa dikatakan merupakan kegiatan yang sejenis, namun yang berbeda adalah kegiatan ini menggunakan format asli yang digunakan oleh para pemimpin negara maupun diplomat di ASEAN dalam pengambilan keputusan yang ada di ajang tertinggi di ASEAN dan tidak mengalami modifikasi seperti yang ada di Model United Nations yang cenderung berbeda di berbagai institusi.

Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang tidak terlupakan, karena selain mampu bertemu dengan banyak teman-teman yang hebat dari seluruh ASEAN, saya mampu bertemu dengan banyak tokoh-tokoh penting di dalam sirkuit ASEAN, dimulai dari petinggi ASEAN hingga diplomat Laos, saya bahkan berkesempatan untuk makan malam bersama duta besar Indonesia untuk Laos bapak H.E Irmawan Wisnandar. Pada akhirnya tentu saja ajang seperti akan penting untuk kalian yang memiliki cita-cita dan target untuk terjun di dunia diplomasi dimana kemampuan berdiplomasi, bekerja sama dan berpidato di depan umum merupakan modal utama untuk menjadi perwakilan Indonesia untuk bidang apapun.

KUblog14 (1)

Wakil Indonesia dalam The Second ASEAN Foundation Model ASEAN Meeting

KUblog14 (2)

Bersama Executive Director ASEAN Foundation
Ms Elaine Tan Ms Elaine Tan

KUblog14 (3)

Makan Malam bersama Duta Besar Indonesia untuk Laos

KUblog14 (4)

Bersama seluruh peserta di ASEAN Socio and Cultural Council

Ditulis oleh:

Rizky Pradhani Ananda, Mahasiswa Sastra Jerman Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran