Pengalaman Magang di UNESCO Indonesia

Saya percaya bahwa belajar itu tidak harus di dalam ruangan kelas, justru dengan terjun langsung ke lapangan saya bisa belajar lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, selama liburan semester genap kemarin saya memutuskan untuk melakukan magang. Sebagai seorang mahasiswi Hubungan Internasional, tentu menjadi bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan hal yang sangat saya inginkan. Di Jakarta sendiri, terdapat beberapa agensi PBB, salah satunya adalah UNESCO. Dari sekian banyak agensi PBB yang ada di Jakarta, UNESCO yang menjadi perhatian saya karena berhubungan dengan skripsi yang akan saya buat. UNESCO adalah agensi PBB yang bergerak di bidang pendidikan, pengetahuan, dan budaya. Untuk kantor UNESCO di Jakarta sendiri merupakan kantor cluster untuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Sehingga apa yang dikerjakan di kantor UNESCO Jakarta bukan hanya tentang Indonesia saja tetapi tentang empat negara lainnya yang sudah disebutkan di atas.

Untuk bisa menjadi ‘anak magang’ di UNESCO Jakarta bukanlah hal yang mudah. Saya harus menghubungi kepala unit dan sekretarisnya terlebih dahulu, lalu menunggu mereka untuk melakukan review terhadap CV saya, dan akhirnya saya juga harus menunggu hasil dari interview dengan kepala unit. Saat mendaftarkan diri untuk magang di UNESCO, saya memutuskan untuk masuk di unit yang bergerak di bidang budaya.

Merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bisa merasakan bekerja di UNESCO Jakarta. Saya jadi lebih paham bagaimana cara kerja agensi-agensi PBB dan bagaimana UNESCO Jakarta bekerja dengan pemerintah Indonesia. Di Indonesia, UNESCO Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sehingga tidak jarang saya juga mengikuti rapat-rapat yang diadakan di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Selain itu, saya juga belajar bagaimana berkomunikasi yang baik dengan rekan-rekan kerja saya yang notabene jauh lebih tua dibandingkan saya. Terlebih lagi, semua kepala unit di UNESCO Jakarta adalah warga asing yang dikirim dari kantor pusat UNESCO di Paris sehingga mau tidak mau saya harus berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Sebetulnya ini merupakan keuntungan bagi saya karena saya menjadi lebih sering mempraktekkan Bahasa Inggris saya baik melalui pembicaraan dan tulisan.

Selama saya magang di UNESCO Jakarta, saya juga mendapat kesempatan untuk membantu unit saya menjalankan workshop mengenai illicit trafficking terhadap objek-objek budaya. Saat itu, workshop tidak hanya dihadiri oleh Indonesia tetapi juga oleh perwakilan dari Timor Leste, Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam. Saya juga mendapat kesempatan untuk mengobrol langsung dengan para pembicara yang merupakan ahli di bidang tersebut. Di dalam kantor sendiri, kepala unit saya juga membebaskan saya untuk membaca semua buku yang tersedia untuk keperluan skripsi saya. Semua rekan kerja saya sangat terbuka bilamana saya mempunyai berbagai pertanyaan baik mengenai UNESCO secara general maupun yang berhubungan dengan skripsi yang akan saya buat.

Bekerja di UNESCO Jakarta merupakan pengalaman yang sangat berarti bagi saya. Bukan hanya karena saya berkesempatan untuk mengenal orang-orang hebat tetapi saya belajar sangat banyak. Saya seperti mempraktekkan apa yang saya pelajari selama di dalam ruangan kuliah. Menjadi ‘anak magang’ di UNESCO Jakarta membuat saya terbuka tentang hal-hal baru. Jadi, mengikuti program magang, meskipun tidak dibayar, merupakan pengalaman yang sangat berguna bagi mahasiswa yang ingin belajar lebih jauh lagi dari yang sudah dipelajarinya di universitas. Tidak ada pengalaman yang tidak mengajarkan kita apa-apa, maka carilah pengalaman sebanyak-banyaknya.

 

Ditulis oleh:
Indah Eva Palmerin, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

slider