Denita (3)

Mewakili Indonesia di Ajang European Students’ Conference (ESC) 2016

Menjelang akhir tahun 2016, saya dan teman-teman dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) berkesempatan untuk mewakili Indonesia di ajang lomba penelitian European Students’ Conference (ESC) 2016 yang diselenggarakan di Berlin, ibu kota Jerman. European Students’ Conference atau ESC adalah salah satu konferensi mahasiswa kedokteran terbesar di dunia. Konferensi ini diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa dari Charite Universitäsmedizin Berlin yang rutin dilaksanakan setiap tahun sejak tahun 1989 dan tahun ini adalah tahun ke 27 sejak ESC pertama kali diselenggarakan. ESC diselenggarakan selama 4 hari dari tanggal 28 September sampai 1 Oktober 2016 di Campus Virchow Klinikum (CVK), tidak jauh dari pusat kota Berlin. Tema dari ESC tahun ini adalah “Facing Antimicrobial Resistance – Research Revolution wanted!”

Total peserta ESC setiap tahunnya mencapai 400-600 peserta aktif (peserta yang mengikuti kompetisi) dan 200-300 peserta pasif (peserta yang tidak mengikuti kompetisi tetapi datang untuk mengikuti konferensi saja) yang berasal dari seluruh dunia. Kami mengetahui tentang ESC karena setiap tahun FKUI rutin mengirimkan delegasi ke ESC. Total delegasi dari FKUI di ESC 2016 adalah 11 orang yang terdiri dari mahasiswa angkatan 2010, 2011, dan 2013. Mayoritas mahasiswa yang mengikuti ESC dari FKUI adalah mahasiswa tahun terakhir yang sedang menunggu upacara pelantikan dokter, dikarenakan saat itu mereka sedang tidak ada kegiatan akademis, sehingga tidak perlu mengurus izin akademis kepada pihak universitas.

Pada saat pembukaan, kami bertemu dengan delegasi Indonesia lainnya yang berasal dari Universitas Gadjah Mada (DI Yogyakarta), Universitas Sriwijaya (Sumatera Selatan), dan Universitas Udayana (Bali). Hari pertama diawali oleh serangkaian kuliah tentang resistensi antimikroba dari pembicara internasional yang berasal dari institusi ternama seperti Harvard University, Priceton University, Tufts University, King’s College London, Robert Koch Institute, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), dan lain-lain. Selanjutnya hari kedua sampai hari terakhir acara dibagi menjadi kompetisi, workshop, dan kuliah. Peserta dibagi menjadi 15 kelompok sesuai dengan disiplin ilmu dari hasil penelitian masing-masing dan dari 15 kelompok tersebut akan diambil dua pemenang yang akan melaju ke babak selanjutnya keesokan harinya. Ronde pertama kompetisi dibagi menjadi sesi pagi dan siang. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini format penilaian adalah peer-review, di mana mahasiswa dalam satu kelompok saling menilai poster penelitian masing-masing didampingi dengan satu supervisor yang merupakan ahli di disiplin ilmu tersebut. Peserta yang lolos ke babak selanjutnya dari Indonesia adalah Rebecca Octavia Francisca, Stephen (UI), dan Isanawidya Hikmah Paramita (UGM). Keesokkan harinya, peserta yang lanjut ke ronde kedua kembali melakukan presentasi poster yang dinilai oleh tiga juri yang merupakan ahli di bidang masing-masing. Setelah ronde kedua selesai, Stephen kembali melakukan presentasi karena penelitiannya berhasil masuk ke shortlist untuk mendapatkan World Health Summit Award dan langsung dinilai oleh ketua dari World Health Summit yaitu Julian Kickbusch.

Hari keempat atau hari terakhir adalah ronde ketiga dari kompetisi dan penutupan ESC 2016. Terdapat 10 peserta yang maju ke ronde terakhir yaitu presentasi lisan di depan panelis juri dan sayang sekali delegasi dari Indonesia belum berhasil untuk melaju ke ronde terakhir. Walaupun begitu, kami belajar tentang teknik presentasi yang baik dan juga belajar banyak dari penelitian yang telah dipresentasikan oleh mereka yang antara lain berasal dari fakultas kedokteran yang memiliki reputasi baik di Eropa antara lain Aarhus University Denmark, University College London, dan King’s College London. Namun, kejutan datang saat pembacaan penghargaan yaitu saat nama Stephen dari UI berhasil meraih penghargaan World Health Summit Award yang diberikan kepada hasil penelitian terbaik di bidang kesehatan masyarakat. Hal ini merupakan suatu kebanggaan karena Indonesia merupakan satu-satunya perwakilan dari Asia yang berhasil meraih penghargaan di ESC 2016.

Kami sangat beruntung dapat mengikuti acara ini karena kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, antara lain mendapat teman baru dari berbagai negara, mendengarkan kuliah dari berbagai ahli di bidangnya, melatih kemampuan presentasi ilmiah dalam bahasa Inggris, mendengarkan hasil-hasil penelitian terbaru, dan kesempatan untuk berjalan-jalan di Jerman dan negara Eropa lainnya. Stephen sebagai salah satu pemenang sebagaimana dituturkan melalui Humas FKUI yang dimuat di laman fk.ui.ac.id, berpesan kepada mahasiswa Indonesia lainnya agar jangan ragu mencoba jika ada kesempatan untuk mengikuti lomba penelitian. Jangan merasa malu dengan kemampuan berbahasa Inggris, dan yang penting dalam suatu presentasi adalah pesan yang ingin kita sampaikan dapat dimengerti oleh juri dan peserta lain. Stephen menambahkan bahwa rasa percaya diri dan optimis mampu menjadi modal besar untuk tampil sebaik mungkin.

Bagi mahasiswa kedokteran atau rumpun ilmu kesehatan seperti kedokteran gigi, farmasi, dan kesehatan masyarakat yang memiliki penelitian di bidang kesehatan yang menarik dan ingin memiliki kesempatan untuk mewakili Indonesia dan mendapat pengalaman baru, acara ini diselenggarakan setiap tahun dan pendaftaran dilakukan online melalui http://esc-berlin.com/ yang dibuka setiap bulan April. Pendaftaran dilakukan dengan mengirimkan abstrak hasil penelitian yang kemudian disaring oleh panitia dan abstrak yang terpilih akan dikirimkan letter of acceptance sebagai tanda bahwa abstrak sudah terpilih dan selanjutnya dapat digunakan untuk pengajuan visa. Biaya pendaftaran adalah 80 untuk peserta aktif dan 60 untuk peserta pasif. Biaya tersebut sudah termasuk akses mengikuti seluruh rangkaian acara, makan siang, snack, seminar kit, dan tiket transportasi umum di Berlin selama acara berlangsung. Untuk pendanaan, tersedia travel grant dari panitia sejumlah 200 untuk peserta yang terpilih, dan selain itu juga dapat mengajukan bantuan ke universitas masing-masing atau sponsor. Saya sendiri mengajukan travel grant kepada panitia dan juga proposal permohonan bantuan dana kepada pihak universitas untuk membantu pembiayaan.

Keberhasilan delegasi dari Indonesia seakan menjadi pembuktian nyata bahwa mahasiswa Indonesia mampu dan layak bersaing di laga internasional. Tunggu apa lagi? Segera siapkan penelitian terbaik kalian untuk ESC tahun 2017 dan dapatkan kesempatan mewakili mahasiswa Indonesia di tingkat internasional!

Denita (1)

Seluruh delegasi dari FKUI dari angkatan 2010 (KKI), 2011, dan 2013

Denita (2)

Delegasi mahasiswa Indonesia di ajang European Students’ Conference 2016

Denita (3)

Penulis di depan poster penelitiannya

 Denita (4)

Rebecca Octavia Francisca di depan poster penelitiannya yang berhasil maju ke babak kedua

 Denita (5)

Stephen di depan poster penelitiannya yang berhasil maju ke babak kedua

Denita (6)

Stephen, delegasi Indonesia asal FKUI, saat menerima penghargaan World Health Summit Award dari Julian Kickbusch, ketua World Health Summit

Ditulis oleh:

Denita Biyanda Utami, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia