Diskusi Bersama Komunitas Wujudkan Kontribusi Generasi Bangsa

Berbicara negara berkembang, tak cukup hanya membahas pendapatan masyarakat setempat. Sederet permasalahan tengah antri untuk diselesaikan tanpa pandang bulu berapa biaya penyelesaiannya. Bukan hanya untuk terlihat kuat di mata negara lain, tepi lebih dari itu, yakni demi mewujudkan kesejahteraan dan cita-cita bangsa. Segudang permasalahan sosial mulai dari pendidikan, lingkungan dan pendapatan masyarakat menjadi agenda semua para pemimpin, namun tak satupun permasalahan tersebut terselesaikan dengan tuntas. Kenyataan yang pahit, tapi kondisi ini bukan untuk diratapi melainkan dicari solusinya.

Bersama teman-teman komunitas yang fokus dalam hal beragam, Kampus Update mengajak pemuda lainnya untuk ikut berkontribusi menyelesaikan agenda pemimpin tersebut. Mungkin tak akan punya target yang besar, tetapi dampak harus dirasa. Pertemuan yang berlangsung di kawasan Matraman, Jakarta pusat tersebut diawali dengan pengenalan komunitas yang hadir. Komunitas tersebut diantaranya BukuBerkaki, Dreamdelion, Jendela, Waste4change, CIMSA dan Sabang Merauke. Masing-masing komunitas fokus pada permasalahan yang menjadi agenda pemimpin tersebut.

Komunitas di bidang pendidikan kita bisa berkarya dengan melanjutkan yang tengah dikerjakan oleh komunitas Jendela,BukuBerkaki dan Sabang Merauke. Kedua komunitas ini fokus pada distribusi buku, khususnya buku pelajaran di seluruh pelosok Indonesia hingga sekolah-sekolah yang sulit dijangkau terutama di kawasan Indonesia bagian timur.

“Kurang lebih 1000 buku telah kita distribusikan ke Indonesia bagian timur, ujar Meyer Makawekes Kwakil Ketua BukuBerkaki (12/9).

Sedangkan komunitas Jendela kini telah memiliki banyak perwakilan yang tersebar diseluruh Indonesia. Masing-masing perwakilan memiliki tanggung jawab untuk mendistribusikan buku, baik berupa library mobile, ataupun distribusi buku yang dibagikan di wilayah tersebut.

Sharing komunitas jendela

“Tahun lalu komunitas jendela mendistribusikan buku ke salah satu sekolah SMA yang berada di wilayah Alor Nusa Tenggara Timur.  Kami kirim buku dengan memanfaatkan layanan di kantor pos. Hal ini kita lakukan karena di sana muridnya tidak memiliki buku, bahkan gurunya juga tidak memiliki acuan buku untuk mengajar murid-muridnya,” tutur Prihatiningsih selaku koordinator program pusat Komunitas Jendela.

Kedua komunitas tersebut berangkat dari rasa prihatin atas anak-anak yang ada di penjuru negeri sulit mendapatkan akses membaca buku, meskipun pemerintah dengan bangga memperkenalkan Ujian Nasional (UN) dengan standar nilai yang sama sebelum akhirnya dihapuskan. Sulitnya mendapat buku di wilayah belahan tanah air nampaknya memang tak akan selesai tanpa tangan-tangan anak negeri yang siap saling mewujudkan impian satu sama lain.

Berbeda dengan BukuBerkaki dan Komunitas Jendela, kawan-kawan dari komunitas Sabang Merauke fokus pada pertukaran pelajar yang berasal dari berbagai pelosok negeri untuk belajar disekolah yang ada di Jakarta. Program pertukaran ini bukan hanya fokus pada proses belajar di dalam kelas, melainkan juga pembangunan rasa ke-bhineka-an para pelajar. Untuk menimbulkan rasa tersebut Sabang Merauke membaurkan berbagai suku, budaya, dan agama berbeda untuk saling memahami saat pertukaran berlangsung.

Sharing komunitas Sabang Merauke

“Komunitas kita fokus pada pertukaran pelajar dan menimbulkan rasa ke-bhineka-an, karena perbedaan, agama, suku dan budaya, baik dari pelajarnya,orang tua wali saat menjadi peserta Sabang Merauke, maupun kaka sabang Merauke yang ditugaskan mengakomodir seluruh kegiatan si Adik yang menjadi peserta tersebut,”kata Laura, perwakilan dari Komunitas Sabang Merauke.

Pelajar menjalani pertukaran tersebut kurang lebih dua minggu. Pertukaran ini diperuntukan bagi siswa-siswi Sekolah menengah pertama (SMP). Perbedaan suku, budaya dan agama, saat ini dianggap sebagian kalangan adalah isu sensitif, tapi bukan berarti harus dihindari. Bagi kawan-kawan Sabang Merauke rasa ke-bhineka-an harus di pupuk sedini mungkin, salah satunya dengan cara pertukaran tersebut dan menggabungkan pihak-pihak dari berbagai suku, budaya dan agama berbeda merupakan salah satu cara untuk memupuk rasa tersebut. Akan tetapi kawan-kawan sabang merauke menyadari penuh ini bukanlah hal yang mudah. Banyak gesekan-gesekan yang timbul saat proses penyatuan tersebut dilakukan.

“Banyak hal yang terjadi saat proses pembauran mereka, mulai dari perbedaan agama hingga gesekan karena perbedaan suku. Namun demikian kami sudah memiliki metode, jika sewaktu-waktu tiga hal tersebut menjadi penyebab gesekan diantara mereka,” tambah Laura.

Komunitas BukuBerkaki, Komunitas Jendela dan Sabang Merauke kini menjadi wadah yang terbuka bagi siapapun yang memiliki visi dan misi yang sama di bidang pendidikan. Tak cukup dengan mengenalkan buku sebagai jendela dunia, namun sikap toleransi setinggi-tingginya juga siap dibangun dan diciptakan melalui jiwa-jiwa muda yang ada di Sabang Merauke. Semua komunitas ini menjadikan pemuda sebagai motor utama penggerak jalannya kegiatan program-program komunitas tersebut.

“Berjuang demi sebuah perubahan Bangsa”.

Tak cukup dengan pendidikan, isu kesehatan, kebersihan dan sosial bisnis tak absen di perbincangkan kita pada sore itu. Perbincangan yang berlangsung santai tapi membahas topik-topi serius tersebut berlalu dengan seiring ide-ide kreatif yang tengah dijalankan komunitas tersebut. Seperti halnya komunitas Waste4change, yang mengelola sampah tidak hanya membuang pada tempatnya, melainkan membuang dengan memilah terlebih dahulu berdasarkan jenis sampah untuk nanti diolah kembali. Kawan-kawan yang bergabung di dalam Waste4change mengajak kita untuk mengenal sampah jauh dari pengertian yang kita ketahui selama ini.

Meydam Gusniar selaku collect supervisor dari Waste4change melemparkan pertanyaan kepada teman-teman lain, terkait pengertian sampah. Dari pertanyaan tersebut nyatanya menyimpulkan bahwa sampah bukanlah barang yang tidak berguna, tetapi sampah adalah barang tak berguna bagi seseorang dan belum tentu pemikiran tersebut berlaku dengan orang lainnya. Buruknya pengelolaan sampah,khususnya di wilayah Ibu Kota Jakarta, bukan hanya menimbulkan banjir, akan tetapi kota terlihat kotor dan jorok. Padalah Ibu Kota dikatakan ruang tamu sebuah negara. Oleh sebab itu untuk urusan sampah nampaknya Jakarta belum bisa menjadi contoh. Kondisi ini diperburuk dengan wilayah Jakarta yang juga wilayah pusat bisnis dikelilingi kota-kota yang menjadi basisnya kawasan industri belum punya sistem yang baik untuk sampah.

“ Sampah di Jakarta tidak diatur dengan baik, karena sistemnya hanya memindahkan dari rumah ke tempat sampah, kemudian diangkut oleh dinas kebersihan ke tempat pembuangan akhir,” kata Maydam.

Maydam mengatakan sistem tersebut meniadakan sistem pemilahan sampah sesuai jenis, padahal sejatinya sampah memiliki jenis-jenis yang berbeda dan akan diolah nantinya sesuai cara berbeda pula. Kondisi in membuat Waste4change bukan hanya membangun sistem di wilayah Bekasi untuk saat ini, tetapi juga merubah cara berfikir masyarakat agar dogma membuang sampah pada tempatnya berganti.

“Buanglah sampah pada tempatnya dengan disesuaikan jenisnya terlebih dahulu,”

Berbicara sampah, makan akan berbicara pada lingkungan. Pengelolaan sampah yang baik akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang sehat, begitupun sebaliknya. Itu artinya lingkungn cukup menjadi penentu kondisi si penghuninya. Jika sampah tidak diatur dengan baik maka penyakit siap mengintai. Jika sudah begini maka kita tak hanya butuh komunitas Waste4change akan tetapi juga teman-teman kedokteran yang tergabung di Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA).

Komunits non provit, non organisasi yang berdiri secara independent ini siap memberikan pengobatan dan penyuluhan ke masyarakat langsung, terutama terkait penyakit yang paling banyak terjangkit di negeri ini, seperti Malaria dan HIV AIDS. Beranggotakan mahasiswa kedokteran di seluruh belahan bumi pertiwi CIMSA siap mengubah image Dokter yang eksklusif menjadi inklusif.

“Kami di CIMSA memiliki banyak program untuk terjun langsung ke masyarakat, dan siap melayani mereka. Wadah CIMSA cukup penting bagi kami karena di CIMSA kesan ekskulsif para teman-teman kedokteran terpatahkan melalui program, baik yang diadakan skala wilayah kota atau provinsi maupun nasional,” kata Miranda Mutia, Vice President for External Affairs.

Teman-teman di CIMSA mencoba mengabdikan diri ke masyarakat bukan demi jas putih melekat secara terhormat, akan tetapi kesadaran yang timbul sebagai pemuda bangsa yang negerinya belum mampu mewujudkan kemudahan akses mendapatkan penanganan medis dengan layak secara merata. Bukan tak ada dokter, tetapi proses keterbukaan akses vital tersebut masih dalam proses.

Dalam program-programnya CIMSA mengutamakan pelayanan terbaik dengan welas asih, jadi tak perlu khawatir.Bermodalkan ilmu pengetahuan, jarum suntik dan jas putih, kawan-kawan CIMSA siap layani masyarakat demi akses kesehatan yang lebih baik.

Pendidikan, lingkungan dan kesehatan telah dibagi, namun itu semua tak akan berjalan jika tak ada motor yang menjadi penggerak bangsa, yakni kegiatan berekonomi. Kegiatan ekonomi selalu dikaitkan dengan jual-beli. Sebuah aktivitas yang memberi kesan hanya si pemilik uanglah yang mampu membeli dan menjadi penggerak ekonomi. Jika sudah begini pembahasan untung-rugi pun tak akan absen. Pebisnis, sekilas hanya orang-orang bermodalkan uang besar dan menjalankan berdasarkan untung atau rugi. Persepsi ini dibantah habis oleh kawan-kawan Dreamdelion, pasalnya mereka membuat bisnis berangkat dari kegiatan sosial. Kegiatan yang jauh dari garis keuntungan.

Sharing komunitas dreamdelion

Sebauh usaha dijalankan oleh Dreamdelion yang digawangi oleh Alia Noor Anoviar dan kawan-kawan, dengan memanfaatkan kreativitas ibu sekitar sanggar belajar karakter yang lebih dulu dibuat oleh Alia. Dreamdelion menjadikan stagen menjadi bahan baku aksesoris yang bernilai jual tinggi sehingga mampu membuka peluang kerja dan menjadi sumber dana bagi sanggar belajar karakter bagi anak-anak yang kurang beruntung di kawasan manggarai.

“Kami bentuk Dreamdelion awalnya untuk mencari sumberdana bagi rumah sanggar kami, namun saat ini kami bersyukur kami mampu memberdayakan tak hanya ibu-ibu di sekitar sanggar tetapi juga ibu-ibu di wilayah Sleman Yogyakarta,” tutur Alia saat berbagi.

Bisnis sosial tak mengenal Curriculum vitae, hanya berdasarkan persetujuan kerjasama yang dijalani lewat pendekatan persuasif dari teman-teman dreamdelion kepada ibu-ibu yang butuh membiayai hidup, tetapi selalu terhalang dengan kertas yang kita kenal sebagai Ijaza.

Serangkaian isu-isu penting yang dibincangkan komunitas diatas tak pelak membuat para peserta diskusi puas dan hanya menjadi pendengar. Diakhir diskusi kami juga mempresentasikan tentangprogram-program tak jauh dari isu-isu yang didalami para komunitas yang hadir. Dengan bekal segudang permasalahan di tanah air ribuan ide pun tertampung di tiga kelompok sore itu.

Mulai dari isu budaya, karakter bangsa yang tak lagi indonesia, pendidikan dengan mengunjungi wilayah terbelakang dengan alam sempurna, hingga permasalah banjir tahunan menjadi pembahasan kami.

“Kami pemuda, tulang punggung bukan hanya sebutan yang semata-mata tersemat pada semangat negeri melalui kami. Kami penggerak, bukan semata-mata kondisi negara kami, akan tetapi jiwa yang ada memang terpanggil menjadi tulang punggung dan bergerak. “

Bagi teman-teman yang bingung mau mewujudkan kontribusi sebagai tulang punggung. Sekilas ulasan diatas bisa menjadi refrensi. Yuk sama-sama wujudkan tanah air menjadi sejahtera tak hanya sebatas cita-cita dan harapan di lagu nasional kita.

Author: fela
Journalism is a more immediate short term weapon | Writer | Editor at Iyaa.com|